Protein memang diperlukan oleh tubuh. Namun, konsumsi terlalu banyak bisa menimbulkan efek samping yang ditunjukkan dari tanda-tanda ini.
Selain nutrisi seperti karbohidrat dan lemak, ada juga protein yang tak kalah penting. Protein menawarkan banyak manfaat bagi tubuh. Salah satunya menjadi sumber energi.
Protein juga menjadi komponen penting yang berperan besar dalam menyusun hampir semua bagian tubuh, seperti otot, tulang, sampai rambut.
Mengonsumsi protein sangat penting untuk membentuk antibodi, memicu reaksi biokimia, hingga mengirim sinyal ke tubuh.
Meskipun menawarkan banyak manfaat bagi tubuh, asupan protein juga perlu dibatasi. Kelebihan protein diduga dapat memengaruhi proses metabolisme dan membebani kerja ginjal.
Batasan konsumsi protein bisa diperhatikan dari faktor usia, jenis kelamin, berat badan tubuh hingga aktivitas apa saja yang dilakukan sehari-hari.
Namun, menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, protein harus mencapai 10 hingga 35% dari total kebutuhan kalori.
Seseorang yang mengonsumsi protein terlalu banyak juga bisa dilihat dari sejumlah tanda. Dilansir dari self.com (17/9/2025) berikut penjelasannya.
1. Aroma napas tidak sedap
Protein yang terlalu banyak menumpuk bisa menyebabkan napas menjadi bau, terutama jika di saat bersamaan kamu juga mengurangi konsumsi karbohidrat.
Hal ini disebabkan oleh ketosis, atau keadaan ketika metabolisme yang terjadi dalam tubuh membakar lemak untuk keperluan energi karena glukosa yang tidak mencukupi. Penumpukan produk sisa metabolisme berupa amonia ini yang menghasilkan bau khas atau sering disamakan dengan aroma buah busuk atau aroma tajam.
Selain itu, sisa asam amino dari protein yang tidak tercerna dengan baik akan berinteraksi dengan bakteri anaerob, menghasilkan senyawa sulfur berbau kurang sedap.
2. Masalah pencernaan
Perut juga tidak bisa mencerna protein terlalu banyak. Dr. Burkhat menjelaskan konsumsi protein terlalu banyak bisa ditandai dengan diare hingga sembelit.
Protein merupakan makronutrien yang membutuhkan waktu lebih lama dan melalui proses lebih kompleks untuk dipecah dalam lambung dan usus. Berada lebih lama di saluran pencernaan memberikan kesempatan bagi usus besar untuk menyerap terlalu banyak air dan menyebabkan feses menjadi kering dan keras.
Terlalu banyak protein sekaligus membatasi karbohidrat juga bisa memperburuk keadaan. Pasalnya, serat dan karbohidrat merupakan kunci untuk meningkatkan feses dan masalah sembelit.
Simak Video "Video: Wanti-wanti Kemenkes Meski Angka Stunting RI Sudah Menurun"
(aqr/adr)