Kebanyakan Makan Protein Juga Tak Baik, Begini 4 Tandanya!

Kebanyakan Makan Protein Juga Tak Baik, Begini 4 Tandanya!

Atiqa Rana - detikFood
Selasa, 19 Mei 2026 06:00 WIB
Takaran Protein Hewani untuk MPASI anak
Foto: Getty Images/iStockphoto/piotr_malczyk
Jakarta -

Protein memang diperlukan oleh tubuh. Namun, konsumsi terlalu banyak bisa menimbulkan efek samping yang ditunjukkan dari tanda-tanda ini.

Selain nutrisi seperti karbohidrat dan lemak, ada juga protein yang tak kalah penting. Protein menawarkan banyak manfaat bagi tubuh. Salah satunya menjadi sumber energi.

Protein juga menjadi komponen penting yang berperan besar dalam menyusun hampir semua bagian tubuh, seperti otot, tulang, sampai rambut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengonsumsi protein sangat penting untuk membentuk antibodi, memicu reaksi biokimia, hingga mengirim sinyal ke tubuh.

ADVERTISEMENT

Meskipun menawarkan banyak manfaat bagi tubuh, asupan protein juga perlu dibatasi. Kelebihan protein diduga dapat memengaruhi proses metabolisme dan membebani kerja ginjal.

Batasan konsumsi protein bisa diperhatikan dari faktor usia, jenis kelamin, berat badan tubuh hingga aktivitas apa saja yang dilakukan sehari-hari.

Namun, menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, protein harus mencapai 10 hingga 35% dari total kebutuhan kalori.

Seseorang yang mengonsumsi protein terlalu banyak juga bisa dilihat dari sejumlah tanda. Dilansir dari self.com (17/9/2025) berikut penjelasannya.

1. Aroma napas tidak sedap

makanan bau mulutTerlalu banyak konsumsi protein bisa sebabkan aroma napas tidak sedap. Foto: Istimewa

Protein yang terlalu banyak menumpuk bisa menyebabkan napas menjadi bau, terutama jika di saat bersamaan kamu juga mengurangi konsumsi karbohidrat.

Hal ini disebabkan oleh ketosis, atau keadaan ketika metabolisme yang terjadi dalam tubuh membakar lemak untuk keperluan energi karena glukosa yang tidak mencukupi. Penumpukan produk sisa metabolisme berupa amonia ini yang menghasilkan bau khas atau sering disamakan dengan aroma buah busuk atau aroma tajam.

Selain itu, sisa asam amino dari protein yang tidak tercerna dengan baik akan berinteraksi dengan bakteri anaerob, menghasilkan senyawa sulfur berbau kurang sedap.

2. Masalah pencernaan

sakit perutMasalah pencernaan juga bisa terjadi akibat terlalu banyak protein. Foto: shutterstock

Perut juga tidak bisa mencerna protein terlalu banyak. Dr. Burkhat menjelaskan konsumsi protein terlalu banyak bisa ditandai dengan diare hingga sembelit.

Protein merupakan makronutrien yang membutuhkan waktu lebih lama dan melalui proses lebih kompleks untuk dipecah dalam lambung dan usus. Berada lebih lama di saluran pencernaan memberikan kesempatan bagi usus besar untuk menyerap terlalu banyak air dan menyebabkan feses menjadi kering dan keras.

Terlalu banyak protein sekaligus membatasi karbohidrat juga bisa memperburuk keadaan. Pasalnya, serat dan karbohidrat merupakan kunci untuk meningkatkan feses dan masalah sembelit.

3. Dehidrasi

Ilustrasi DehidrasiMakan banyak protein juga menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi. Foto: Dok. Shutterstock

Protein yang masuk tubuh juga akan berlanjut ke hati untuk dipecah. Proses ini menghasilkan banyak produk limbah seperti zat yang disebut urea.

Dari proses tersebut urea lalu diangkut ke ginjal dan disaring dari darah dan dieksresikan dari tubuh melalui urin.

Semakin banyak protein yang dikonsumsi, semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh ginjal untuk menghilangkan urea. Dengan demikian, semakin banyak juga frekuensi tubuh untuk buang air kecil. Pada akhirnya menyebabkan tubuh dehidrasi.

Jika asupan air tidak ditambah ketika asupan protein tinggi, tubuh akan mengambil cairan dari jaringan atau sel lain, yang berujung pada gejala dehidrasi, seperti mulut kering dan mual.

4. Berat badan naik

Konsumsi protein berlebihan juga bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Dr.Burkhat menjelaskan jika dalam satu gram protein akan keluar menjadi empat kalori.

Berat badan pun dapat meningkat jika asupan proteinnya lebih dari protein yang dibakar. Kalori yang menumpuk dari protein ini akan diubah dan disimpan menjadi jaringan lemak.

Dilansir dari Alodokter, untuk menghindari penambahan berat badan, pastikan asupan protein harian Anda disesuaikan dengan aktivitas fisik. Rata-rata orang dewasa yang tidak banyak berolahraga hanya membutuhkan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Wanti-wanti Kemenkes Meski Angka Stunting RI Sudah Menurun"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads