Chef mengungkap sejumlah seafood yang tidak akan mereka konsumsi. Banyak juga yang menghindari jenis ikan tertentu karena sejumlah alasan.
Seafood termasuk makanan populer dengan beragam jenis. Ada ikan, udang, cumi, belut, dan berbagai makanan lainnya. Harga dan kualitasnya juga bervariasi, ada yang murah sampai yang seharga puluhan dan ratusan juta rupiah.
Namun, bagi para chef, tidak semua jenis seafood yang dijual di pasaran atau ditawarkan restoran mau mereka konsumsi. Asal usul budidaya, cara pengolahan di restoran, hingga aspek lainnya membuat para chef menghindari sejumlah seafood tertentu.
Dilansir dari Food Republic (8/4/2026), berikut 5 jenis seafood yang tidak akan dimakan oleh para chef.
1. Tilapia
Tilapia merupakan kelompok ikan air tawar dari suku tilapline cichlid. Ikan nila atau oreochromis niloticus yang lebih umum di Indonesia juga termasuk dalam kategori ikan tilapia tersebut.
Para chef menyarankan untuk hati-hati dengan ikan ini. Ikan ini memang relatif murah dan dibudidayakan lebih dari 135 negara di seluruh dunia dengan China menjadi produsen terbesar. Namun, banyak yang khawatir tentang standar praktik budidaya di beberapa negara yang masih kurang jelas.
Sembunyikan kutipan teks
Menurut chef MacMillan, beberapa potongan daging ikan tilapia bisa saja berkualitas rendah dengan rasa yang tidak terlalu enak. Hal tersebut disebabkan karena sifat dagingnya yang mudah menyerap rasa dari lingkungan sekitar.
Bahkan, sebagian chef menganggap ikan tilapia sebagai 'trash fish' atau ikan sampah karena karakternya yang hambar, sehingga rasanya sangat bergantung pada bumbu untuk menutupi kelemahan aslinya.
2. Orange roughy atau sembeliak merah
Orange roughy juga menjadi salah satu yang dihindari para chef. Jenis ikan ini dulu juga sering muncul di pasaran maupun menu-menu restoran, tetapi saat ini sudah jarang.
Ikan ini populer karena rasanya yang lembut dan teksturnya kenyal, serta cukup serbaguna karena bisa dipanggang, ditumis, maupun dibakar.
Namun, sebelum membeli atau menikmatinya, perlu diketahui jika ikan ini punya umur yang sangat panjang. Beberapa di antaranya hidup hingga 150 sampai 200 tahun. Artinya, orange roughy memiliki banyak waktu untuk menyerap merkuri dan racun lainnya.
Mengonsumsinya dapat memicu risiko keracunan merkuri bagi manusia. Berakibat buruk pada sistem saraf. Hal ini membuat para chef enggan mempertaruhkan kesehatan pelanggan mereka.
Simak Video "Chef Eko: Passion Masak dari Hati"
(aqr/adr)