Mengulik Sejarah Takjil, Jejak Dakwah hingga Jadi Budaya Ramadan
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
Takjil identik dengan Ramadan dan tradisi berbuka puasa. Di balik jajanan favorit ini, tersimpan sejarah panjang, makna religius, dan nilai budaya yang menarik.
Di berbagai sudut kota, penjual takjil bermunculan dan menciptakan suasana khas Ramadan. Keramaian sore hari pun menjadi momen yang selalu dinanti.
Takjil bukan sekadar makanan pembuka puasa. Di balik tradisi ini, tersimpan sejarah panjang dan nilai keagamaan yang mendalam.
Dari anjuran Nabi hingga budaya lokal, takjil berkembang lintas zaman. Jejaknya merekam perjalanan Islam dan kebiasaan masyarakat Muslim di berbagai daerah.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut fakta menarik tentang sejarah takjil:
1. Asal-usul Istilah Takjil
Kurma biasa jadi takjil. Foto: Getty Images/Nungning20 |
Istilah takjil ternyata telah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, manusia berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka puasa.
Kata 'menyegerakan' berasal dari istilah Arab 'ajjalu' yang bermakna momentum, tergesa, atau mempercepat. Makna ini menegaskan anjuran untuk tidak menunda waktu berbuka.
Sementara KBBI mendefinisikan takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa. Namun, makna dasarnya adalah tindakan menyegerakan, bukan sekadar sebutan makanan pembuka.
2. Sejarah Takjil di Indonesia
Istilah takjil di Indonesia tercatat dalam laporan De Atjehers karya Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19. Catatan ini menggambarkan tradisi buka puasa masyarakat Aceh.
Saat itu, buka puasa dilakukan bersama di masjid dengan sajian bubur pedas. Hidangan ini menjadi menu khas untuk berbuka yang sarat nilai kebersamaan.
Sumber lain menyebut takjil dimanfaatkan sebagai sarana dakwah Wali Songo di Jawa pada abad ke-15. Tradisi ini menjadi media penyebaran Islam yang lekat dengan budaya lokal.
3. Dipopulerkan oleh Muhammadiyah
Kolak pisang jadi takjil favorit di Indonesia. Foto: Getty Images/Ika Rahma |
Sejak itu, tradisi takjil terus dilestarikan Muhammadiyah hingga makin populer di kalangan Muslim Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari budaya Ramadan yang lekat hingga kini.
Muhammadiyah berperan besar mempopulerkan takjil sebagai sarana menyegerakan berbuka puasa. Tradisi ini mendorong umat Islam tak menunda waktu berbuka di bulan Ramadan.
Profesor Munir Mulkhan dalam bukunya Kiai Ahmad Dahlan - Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010) menyebut Muhammadiyah rutin menggelar takjil. Tujuannya untuk memudahkan kaum muslimin berbuka tepat waktu.
4. Perkembangan Takjil di Timur Tengah
Tradisi menyegerakan berbuka puasa juga dikenal luas di Timur Tengah sejak era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Dikutip dari islamweb.net, masjid-masjid kala itu rutin menyediakan kurma dan air bagi musafir serta fakir miskin saat magrib.
Di Mesir, tradisi takjil berkembang pesat sejak era Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10. Mengutip egypttoday.com, penguasa kala itu membagikan makanan berbuka gratis di masjid dan jalanan sebagai bentuk kepedulian sosial.
Sementara di Turki Utsmani, takjil dikenal lewat jamuan berbuka di dapur umum atau imaret. engacu pada turkishculture.org, makanan gratis disediakan untuk warga, musafir, dan kaum duafa selama Ramadan.
Di Indonesia sendiri, tradisi berbagi takjil makin berkembang sejak era kebangkitan organisasi Islam awal abad ke-20. Dikutip dari kemdikbud.go.id, kegiatan ini memperkuat solidaritas sosial dan budaya gotong royong di bulan Ramadan.
(raf/adr)
-
KueResep Dadar Gulung Isi Unti Kelapa yang Manis dan Harum Nangka
-
TelurResep Semur Telur dan Tahu ala Betawi, Menu Ekonomis yang Sedap
-
Minuman3 Resep Es Campur Spesial untuk Buka Puasa, Segar dengan Isian Melimpah
-
Tahu dan TempeResep Martabak Tahu Kulit Lumpia yang Renyah dan Isiannya Gurih


