×
Ad

Apel Berlapis Lilin Bikin Banyak Orang Parno, Apa Aman Dimakan?

Beta Lukitasari Wijaya - detikFood
Rabu, 21 Okt 2026 14:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/Helin Loik-Tomson
Jakarta -

Banyak orang 'parno' alias takut makan apel yang permukaannya dilapisi lilin. Mereka khawatir lapisan itu bisa membahayakan kesehatan jika tertelan. Bagaimana faktanya?

Sebagian orang akhirnya bahkan berhenti makan apel karena takut mengalami efek samping akibat paparan lapisan lilin, sementara yang lain merendamnya dalam larutan soda kue, menggosoknya, hingga merebusnya.

Lantas, seperti apa fakta soal lapisan lilin pada apel?

Carla L. Schwan, asisten profesor sekaligus spesialis keamanan pangan di Departemen Ilmu Gizi University of Georgia, menjelaskan bahwa pelapisan lilin ditujukan untuk menjaga kualitas apel.

Apel sejatinya punya lapisan lilin alami tipis bernama kutikula atau "bloom" yang menahan kelembapan dan menangkal mikroorganisme. Namun, sebagian besar lapisan itu hilang saat pencucian dan penanganan komersial setelah panen.

Produsen di Uni Eropa, Hong Kong, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat kemudian menggantinya dengan lilin bermutu pangan (food-grade).

Apel kerap disimpan berbulan-bulan dalam pendingin. Tanpa lapisan tersebut, buah lebih cepat menyusut, lunak, dan berkerut. Menurut Schwan, lebih dari sepertiga apel bisa rusak sebelum sampai ke pengecer.

Dari sisi keamanan, lilin telah digunakan pada buah dan sayuran sejak 1924. Di Amerika Serikat, seluruh lilin untuk apel dikategorikan food-grade dan disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA).

Bahannya kerap berasal dari sumber alami, seperti shellac atau lilin carnauba dari daun palem, yang terkadang dicampur untuk mengatur kilau, daya tahan terhadap kelembapan, dan tekstur.

Panel ilmuwan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan tidak ada kekhawatiran genotoksisitas pada carnauba.

Adapun komisi Uni Eropa pada 2025 menyimpulkan shellac tidak berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan manusia saat dipakai sebagai pelapis buah.

Bahan-bahan ini juga berstatus Generally Recognized as Safe (GRAS) dan diakui lembaga lain, termasuk Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Dr. Alex McDonald, dokter keluarga di Kaiser Permanente Southern California, menyebut tiap apel biasanya hanya memakai sekitar satu tetes lilin.

Menurutnya, mengonsumsi satu apel ataupun 10 apel tidak memberikan perbedaan berarti dari sisi keamanan pangan. Lilin itu tidak diserap tubuh, tetapi melewati saluran pencernaan dan dikeluarkan bersama feses.

McDonald juga mengingatkan, repotnya menghilangkan lilin justru bisa membuat orang enggan makan apel, di saat kebanyakan orang masih kekurangan asupan buah dan serat, padahal apel merupakan salah satu sumber yang mudah didapat.




(adr/adr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork