Label 'sehat' sering kali membuat orang merasa aman saat memilih makanan atau minuman sehari-hari. Padahal, tidak semua yang tampak bernutrisi benar-benar baik bagi tubuh.
Ada makanan yang kaya vitamin, tetapi berubah menjadi tinggi gula dan kalori akibat proses memasak. Ada pula minuman yang dipromosikan sebagai solusi praktis gaya hidup sehat, tetapi justru minim serat atau mengandung pemanis buatan.
Tanpa disadari kebiasaan mengonsumsi menu 'sehat' tersebut bisa memicu lonjakan gula darah, gangguan pencernaan, hingga kenaikan berat badan. Karena itu, penting untuk lebih kritis membaca label dan memahami konteks konsumsinya.
Dilansir dari DailyMailUK (12/01/2026), menurut Ahli gizi asal London, Lily Soutter, berikut 5 makanan yang kerap dicap sehat, tetapi perlu dikonsumsi dengan lebih bijak.
1. Sayuran yang Diolah Kurang Tepat
Sayuran jenis umbi panggang sering dianggap pilihan sehat sebagai pengganti kentang goreng. Bit, wortel, ubi, hingga parsnip memang kaya serat, vitamin, serta mineral.
Namun cara memasaknya perlu diperhatikan. Saat dipanggang dengan suhu tinggi, kandungan air dalam sayuran berkurang dan gula alaminya mengalami karamelisasi sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Jika ditambah minyak berlebih, mentega, atau pemanis seperti madu, kandungan kalori dan lemaknya meningkat. Lily Soutter menyebut proses memanggang tidak menghilangkan manfaat gizi, tetapi bahan tambahan dapat membuatnya kurang sehat jika tidak dikontrol dengan bijak.
2. Buah Kering
Buah kering dikenal padat nutrisi karena mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan. Namun proses pengeringan membuat kadar gulanya menjadi sangat terkonsentrasi.
Kondisi ini berisiko memicu kenaikan berat badan dan masalah gigi jika dikonsumsi berlebihan. Lily Soutter menyarankan porsi buah kering maksimal sekitar 30 gram atau setara satu sendok makan penuh.
Ia juga menganjurkan agar buah kering dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan untuk mengurangi risiko kerusakan gigi. Untuk camilan di sela waktu makan, buah segar dinilai lebih aman karena kandungan air dan seratnya membantu mengontrol asupan gula secara alami.
3. Jus Hijau
Minuman jus hijau sering dipromosikan sebagai cara praktis memenuhi kebutuhan sayur dan asupan gizi harian. Meski kaya vitamin, banyak jus hijau mengandung gula tamabhan dan minim serat karena ampasnya dibuang.
Kondisi ini dapat memicu lonjakan gula darah. Lily Soutter menyarankan memilih jus dengan komposisi sayuran lebih banyak dibanding buah. Ia juga merekomendasikan jus jenis cold-pressed karena cenderung mempertahankan nutrisi.
Alternatif yang lebih seimbang adalah smoothie buatan rumah dari buah dan sayur utuh, ditambah sumber protein. Mengonsumsi jus sebagai bagian dari makan utama juga membantu menjaga kestabilan gula darah.
(sob/adr)