Istilah dirty coffee dan dirty latte mungkin sering terdengar membingungkan karena namanya yang mirip. Namun, apakah keduanya terdiri dari racikan sama?
Seiring berkembangnya zaman, racikan kopi pun semakin beragam jenisnya.
Akhir-akhir ini muncul racikan kopi populer bernama dirty coffee dan dirty latte. Racikan tersebut dikenal terdiri dari bahan espresso panas yang dituang langsung di atas susu dingin tanpa diaduk untuk menciptakan efek gradasi 'kotor' atau berlapis.
Namun, apakah racikan keduanya benar-benar sama atau ada sedikit perbedaan? Dilansir dari caffeinespots.com (29/6), berikut penjelasannya!
1. Mengenal dirty coffee
Dirty coffee merupakan salah satu minuman kopi dengan tampilan menarik secara visual.
Minuman ini terdiri dari racikan sederhana, berupa espresso panas yang dituangkan perlahan di atas susu dingin dalam gelas bening, tanpa tambahan es batu.
Minuman ini pun dinikmati langsung dari gelas tanpa sedotan atau diaduk agar terasa sensasi hangat di awal dan dingin di akhir tegukan.
Membiarkan espresso di atas perlahan meresap ke bawah melalui susu Itulah mengapa disebut 'dirty' atau kotor karena kopi seolah menodai susu putih dalam gelas.
2. Asal mula dirty coffee
Meski baru terkenal akhir-akhir ini, racikan kopi tersebut sudah diciptakan sekitar tahun 2010 oleh Katsuyuki Tanaka yang dikenal sebagai Angelstain, pendiri Bear and Pond Espresso.
Menurut wawancara Barista Magazine dengan Tanaka, inspirasi racikan ini datang dari seorang pelanggan yang mengeluh bahwa esnya telah mencari di dalam minuman latte-nya.
Sebagai solusi, Tanaka akhirnya membuat ulang minuman, mencampurkan susu dingin tanpa es dengan espresso kental ala ristetto yang dituangkan langsung di atasnya.
Soal nama, Tanaka mengambilnya dari visual minuman tersebut. Ketika Tanaka menyeduh espresso kentalnya, crema dan kopi akan meninggalkan bekas dan noda di tepi cangkir.
Ia menyebut noda-noda tersebut sebagai 'ketulusan espresso'. Lalu ia menuangkannya di atas susu, menghasilkan efek 'kotor' di dalam gelas.
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
(aqr/sob)