Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
images
waktu berbuka
17:58 WIB
wilayah Jakarta
Back
Langkah Emas Raih Kemenangan

5 Tips Menyimpan Sisa Takjil Agar Tak Mubazir dan Aman Dikonsumsi

Diah Afrilian - detikFood

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hukum Mencicipi Makanan Saat Memasak Hidangan untuk Buka Puasa
Foto: iStock
Jakarta -

Saat buka puasa, tidak jarang makanan akan tersisa. Sisa makanan ini boleh disimpan, asalkan mengikuti beberapa aturan agar tetap aman dikonsumsi.

Bulan ramadan identik dengan aneka hidangan lezat saat berbuka puasa dan sahur. Mulai dari olahan daging, ayam, hingga aneka takjil manis, semuanya tersaji menggugah selera setelah seharian menahan lapar dan haus.

Namun menu buka puasa tak selalu habis dalam satu waktu. Banyak orang menyimpan sisa makanan buka puasa untuk disantap saat sahur atau pada hari berikutnya.

Ternyata ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan sebelum menyimpan sisa menu buka puasa agar tetap aman dikonsumsi. Dilansir dari Food Safety and Inspection Service, United States Department of Agriculture (FSIS USDA), ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menyimpan sisa hidangan buka puasa.

Berikut 5 cara yang menyimpan sisa makanan buka puasa dengan benar:

Ilustrasi buka puasaMakanan untuk berbuka puasa harus dimasak hingga suhu tminimal tertentu merujuk pada aturan FSIS USDA. Foto: iStock

1. Masak dengan Suhu yang Benar

Salah satu prinsip terpenting dalam keamanan pangan adalah memastikan bahwa makanan dimasak hingga mencapai suhu internal yang aman. Jika memungkinkan, gunakan termometer untuk mengukur suhu di dalam makanan yang sedang dimasak.

Contohnya, daging sapi atau kambing potong utuh dianjurkan mencapai 145°F (±63°C), daging cincang mencapai 160°F (±71°C), dan semua jenis unggas (whole atau ground) mencapai 165°F (±74°C). Semua produk unggas (ayam, kalkun), baik utuh maupun giling dimasak minimal mencapai suhu 165°F (±74°C).

Memasak makanan sampai suhu aman tidak hanya membuatnya lezat, tapi juga memastikan bahaya mikroorganisme seperti Salmonella atau E. coli mati sebelum disajikan kepada keluarga dan tamu.

2. Sesuaikan Penyimpanannya

Ketika jam berbuka tiba, hidangan mungkin sudah menunggu di meja cukup lama. Tips dari FSIS USDA adalah menjaga makanan tetap berada pada suhu aman agar bakteri tidak berkembang.

Makanan dingin harus dijaga pada suhu ≤ 40°F (±4°C), misalnya, dengan menempatkan di atas mangkuk berisi es. Bisa juga dengan menyimpannya terlebih dahulu di dalam kulkas dan baru dihidangkan beberapa menit sebelum waktu berbuka tiba.

Makanan panas idealnya dijaga pada suhu ≥ 140°F (±60°C), misalnya menggunakan oven yang sudah dipanaskan atau slow cooker. Menjaga suhu ini membantu mencegah makanan memasuki apa yang disebut sebagai Danger Zone, yaitu rentang suhu antara 40°F hingga 140°F di mana bakteri berbahaya dapat berkembang pesat.

3. Hindari Penyajian Lebih dari 2 Jam

Setelah selesai buka puasa, seringkali ada sisa makanan yang ingin disimpan untuk sahur atau santapan lain. Sebab momen buka puasa selalu diikuti dengan aktvitas ibadah lain seperti solat magrib, isya, hingga tarawih.

FSIS USDA mengingatkan agar makanan perishable tidak dibiarkan di suhu ruang lebih dari 2 jam setelah disajikan. Jika suhu lingkungan melebihi 90°F (±32°C) waktu aman turun menjadi 1 jam.

Meninggalkan makanan dalam suhu Danger Zone terlalu lama meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang bisa menyebabkan keracunan makanan. Sebaiknya segera simpan sisa makanan ke dalam kulkas atau freezer setelah waktu dua jam tersebut.

Hukum Mencicipi Makanan Saat Memasak Hidangan untuk Buka PuasaSelain itu, menjaga kebersihan dapur juga penting untuk dilakukan. Foto: iStock

4. Jaga Kebersihan Dapur

Selain memastikan suhu masak dan penyimpanan yang tepat, kebersihan tangan dan peralatan dapur juga menjadi kunci utama keamanan pangan selama Ramadan. Aktivitas masak dalam jumlah besar untuk berbuka puasa maupun sahur meningkatkan risiko perpindahan bakteri dari tangan, talenan, pisau, hingga permukaan meja dapur.

FSIS USDA menyarankan selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah menangani makanan. Terutama setelah memegang daging mentah, ayam, telur, atau makanan laut.

Selain itu, bersihkan dan sanitasi talenan, pisau, serta permukaan dapur setelah digunakan. Dengan menjaga kebersihan dapur, risiko penyebaran bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E. coli dapat diminimalkan.

5. Pisahkan Makanan Mentah dan Matang

Kesalahan umum yang sering terjadi saat menyiapkan menu berbuka adalah menggunakan talenan atau piring yang sama untuk makanan mentah dan makanan matang tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Praktik ini dapat menyebabkan cross-contamination atau kontaminasi silang.

FSIS USDA menekankan pentingnya memisahkan daging mentah, unggas, dan makanan laut dari sayuran, buah, serta makanan matang. Gunakan talenan dan pisau berbeda, atau cuci bersih dengan sabun dan air panas sebelum digunakan kembali.

Saat menyimpan bahan makanan di kulkas, letakkan daging mentah di rak paling bawah dalam wadah tertutup untuk mencegah cairannya menetes ke makanan lain. Langkah sederhana ini sangat efektif dalam mengurangi risiko penyakit bawaan makanan (foodborne illness).

(dfl/dfl)