Bukan pakai kulkas, warga Rusia dan Finlandia punya cara unik simpan susu tetap segar dengan merendam katak hidup di dalamnya. Begini penjelasan ilmiahnya!
Kulkas kerap jadi solusi untuk menyimpan makanan agar tetap segar. Suhu dingin pada kulkas mampu menjaga kualitas makanan tetap terjaga sehingga masih aman dikonsumsi.
Namun, jauh sebelum kulkas ditemukan, masyarakat di sejumlah wilayah Rusia dan Finlandia memiliki cara unik untuk menjaga susu tetap segar.
Mereka memasukkan katak hidup ke dalam wadah berisi susu selama beberapa waktu agar minuman tersebut tidak cepat basi. Tradisi ini mungkin terdengar aneh bagi masyarakat modern.
Namun, penelitian ilmiah menemukan bahwa kebiasaan tersebut ternyata memiliki dasar biologis yang cukup menarik dan bukan sekadar kepercayaan atau cerita rakyat.
Menurut catatan sejarah, masyarakat pedesaan di Rusia dan Finlandia menggunakan katak cokelat atau Rana temporaria untuk membantu mengawetkan susu, lapor News18 (15/6).
Katak tersebut dimasukkan ke dalam wadah susu dan kemudian dikeluarkan kembali dalam kondisi hidup.
Cara tersebut dipercaya dapat membuat susu bertahan lebih lama, terutama pada masa ketika kulkas dan teknologi pendingin belum tersedia.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mencari cara alami untuk memperlambat proses pembusukan makanan dan minuman. Penjelasan ilmiah mengenai tradisi ini mulai diteliti lebih serius pada 2012.
Peneliti dari Moscow State University mempelajari kemampuan kulit katak cokelat dan menemukan adanya senyawa yang berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Kulit katak tersebut diketahui menghasilkan peptida antimikroba. Senyawa berupa molekul protein berukuran kecil ini memiliki kemampuan melawan sejumlah bakteri dan jamur.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menemukan lebih dari 70 peptida antimikroba yang sebelumnya belum diketahui.
Beberapa di antaranya terbukti efektif menghambat pertumbuhan bakteri yang berpotensi menyebabkan makanan rusak.
Para peneliti menduga senyawa tersebut dapat dilepaskan dari kulit katak ke dalam susu. Kehadirannya kemudian menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi pertumbuhan mikroorganisme penyebab susu cepat basi.
Temuan ini pun membantu menjelaskan mengapa tradisi memasukkan katak ke dalam susu bisa bertahan selama beberapa generasi di sejumlah komunitas pedesaan.
Masyarakat pada masa itu mungkin belum mengetahui mekanisme biologisnya, tetapi secara empiris melihat susu dapat bertahan lebih lama.
Menariknya, penelitian mengenai senyawa antimikroba dari kulit katak tidak hanya berkaitan dengan pengawetan makanan. Senyawa tersebut juga menarik perhatian ilmuwan karena berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan medis.
Para peneliti kini mempelajari peptida antimikroba tersebut sebagai kandidat pengembangan antibiotik baru.
Hal ini menjadi semakin penting karena sejumlah bakteri telah menunjukkan resistansi terhadap antibiotik yang tersedia saat ini.
Meski memiliki penjelasan ilmiah, bukan berarti cara tradisional tersebut aman untuk diterapkan pada masa kini.
Memasukkan katak hidup ke dalam susu tetap berisiko menyebabkan kontaminasi dan tidak sesuai dengan standar keamanan pangan modern.
Saat ini, penyimpanan susu sebaiknya dilakukan menggunakan metode yang sudah teruji, seperti pendinginan dalam kulkas.
Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
(raf/adr)