×
Ad

Demi Jualan Mie, Mantan Software Engineer Ini Tinggalkan Gaji Rp174 Juta

Diah Afrilian - detikFood
Senin, 10 Agu 2026 14:00 WIB
Foto: YouTube/CNA Insider
Jakarta -

Mantan software engineer tinggalkan gaji Rp174 juta demi jualan Hokkien Mee. Meski penghasilan turun dan jam kerja bertambah, ia mengaku lebih bahagia.

Pilihan karier seseorang tak selalu berakhir pada pekerjaan dengan gaji besar. Terkadang, kepuasan justru datang dari sesuatu yang dibangun dengan tangan sendiri.

Keputusan mengubah jalan hidup juga membutuhkan keberanian. Apalagi jika pilihan tersebut berarti meninggalkan kenyamanan demi menghadapi risiko dan tantangan baru.

Dilansir dari Says, (7/8/2026), Alvin Tan merupakan warga Singapura yang sebelumnya bekerja sebagai software engineer. Ia memiliki penghasilan mencapai 40.000 Ringgit atau setara Rp174 juta.

Tan merupkan mantan software engineer yang nekat meninggalkan pekerjaannya. Foto: YouTube/CNA Insider

Namun, Tan memilih meninggalkan pekerjaan tersebut dan membuka kedai Hokkien Mee. Penghasilannya kini jauh lebih kecil dibandingkan saat bekerja di perusahaan teknologi.

Keputusan itu juga dipengaruhi oleh kondisi perusahaan tempatnya bekerja. Tan melihat sekitar 10% karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja.

Tan kemudian membuka kedai Hokkien Mee bernama Umami. Kini, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp41 juta-Rp55 juta per bulan.

Tan tidak langsung menyewa tempat dan menghabiskan banyak modal untuk membuka kedai. Ia terlebih dahulu membuat Hokkien Mee di rumah untuk menguji resepnya.

Makanan itu kemudian dibagikan secara gratis kepada orang-orang untuk mendapatkan masukan. Setelah yakin, ia mulai menjualnya di sejumlah acara kuliner.

Dari yang biasanya menerima gaji Rp174 juta sebulan, ia memilih alih profesi berjualan Hokkien Mee. Foto: YouTube/CNA Insider

"Mulailah dari kecil dan perlahan kembangkan menjadi produk yang tepat," ujar Tan menceritakan jerih payahnya mencari pasar dan bersaing dengan penjual makanan lainnya.

Ia kemudian menyadari bahwa rasa enak saja tidak cukup untuk membuat bisnis bertahan. Harga jual juga harus sesuai dengan biaya dan kemampuan pelanggan.

Beruntung, usahanya tak mengkhianati hasil. Kedai milik Tan kini berhasil meraup omzet hampir Rp265 juta per bulan.

"Saya juga pernah membuang banyak bahan makanan, dan rasanya sangat menyedihkan," ungkapnya.

Sayangnya, kini kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Harga udang dan gas untuk memasak yang meningkat membuat penghasilan Tan ikut tertekan.

Tetapi Tan tak menyerah. Ia terus memutar otak untuk mempertahankan bisnisnya. Salah satu alasannya bertahan ialah karena pengalaman menjadi penjual makanan jauh lebih membuatnya bahagia daripada menjadi pekerja kantoran.



Simak Video "Gulai Kerapu & Sayur Tauco Kok di Nasi Padang?"

(dfl/adr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB