Warungnya Tutup, Penjual Tak Takut Bangkrut dan Tetap Masak untuk Dibagi-bagi

Warungnya Tutup, Penjual Tak Takut Bangkrut dan Tetap Masak untuk Dibagi-bagi

Atiqa Rana - detikFood
Kamis, 09 Jul 2026 18:00 WIB
Warungnya Tutup, Penjual Tak Takut Bangkrut dan Tetap Masak Untuk Dibagi Gratis
Foto: mothership.sg / Google Photos
Jakarta -

Kisah unik dibagikan oleh seorang penjual makanan. Warungnya tutup selama dua bulan yang membuat dirinya tidak berpenghasilan. Namun, di balik itu dirinya masih punya niat mulia!

Berbagai tantangan kerap dihadapi oleh pemilik bisnis kuliner. Mulai dari persaingan ketat, harga bahan baku dan sewa meningkat, pelanggan yang kurang, atau masalah internal tertentu. Bahkan, beberapa masalah tidak bisa dihadapi begitu saja, membuat mereka memutuskan untuk berhenti berjualan sejenak. Hal ini seperti yang dialami oleh seorang penjual makanan di Singapura.

Hani-Isnine Racine, seorang pemilik warung makan Traditional Malay Muslime Cuisine di Singapura memutuskan untuk menutup gerainya selama dua bulan karena ia harus mengurus orang tuanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menutup bisnis sementara bukanlah keputusan yang mudah. Ketika bisnis ditutup, artinya pemasukan juga berhenti. Namun, hal yang ditakutkan oleh Hani bukanlah soal kehilangan penghasilan. Melainkan karena ia takut para pelanggan setianya tidak dapat makanan.

ADVERTISEMENT

Selama penutupan warung, pemilik gerai berlokasi di Kukoh 21 Hawker Centre itu masih aktif memasak. Ia biasa memasak mie goreng dan nasi lemak yang ditujukkan untuk dibagi secara gratis. Biasanya masakan tersebut diletakkan di luar gerai setiap harinya, sehingga masyarakat sekitar area jalan Kukoh bisa mengambilnya, lapor mothership.sg (8/7).

Meski tutup selama dua bulan, Hani-Isnine akan membukanya kembali pada 6 Juli. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika wrungnya ditutup permanen.

Warungnya Tutup, Penjual Tak Takut Bangkrut dan Tetap Masak Untuk Dibagi GratisIni dia warung makan yang masih mempertahankan harga murah. Foto: mothership.sg / Google Photos

Berbicara kepada Berita Harian (BH), Hani mengungkap bahwa pelanggan tetapnya sebagian besar adalah warga lanjut usia yang tinggal di flat sewaan di dekatnya. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang telah bergantung pada warung makannya selama bertahun-tahun.

Hani mengungkap, "Saya lebih khawatir mereka tidak akan punya makanan. Saya sudah mengenal mereka selama bertahun-tahun."

Selama enam tahun berdiri, makanan yang dijual oleh Hani hanya dibanderol seharga S$2,50 atau sekitar Rp 34.996. Tujuannya supaya makananya bisa dibeli dengan harga terjangkau oleh warga lingkungan sekitar.

Awalnya hidangan khas Melayu, seperti nasi lemak, nasi rawon, mee rebus, mee soto, nasi ayam, dan lontong harganya dibanderol antara S$3 (Rp 41.964) dan S$4,50 (Rp 62.946).

Lalu pada November 2023, Hani memutuskan menstandarkan semua makanan dengan harga S$2.50 saja (Rp 34.970). Harga tersebut juga tetap dipertahankan hingga saat ini, sekalipun biaya bahan baku dan biaya operasional terus meningkat.

"Saya membuka kios ini untuk masyarakat. Saya hanya ingin berkontribusi semampu saya dan melakukan apa yang saya bisa untuk orang-orang di sini," ujar Hani kepada BH.

Tujuanya menjaga harga tetap rendah juga untuk menjaga martabat pelanggannya. Menurutnya dengan harga S$10 (Rp 139.989), pelangannya masih bisa mendapatkan empat hidangan tanpa merasa sedang meminta sedekah.

Memang pendapatannya akhir-akhir ini menurun secara signifikan. Banyak hari di mana ia tidak mendapat penghasilan sama sekali. Situasi semakin memburuk setelah GST atau pajak dinaikkan menjadi smebilan persen pada Januari 2024 yang menambah tekanan di atas kenaikan bahan baku, utilitas, sampai operasional.

Saat ini ia menghabiskan uang sekitar S$500 per hari untuk membeli bahan baku, seperti daging, sayuran, dan kebutuhan memasak lainnya. Hal ini belum termasuk membeli beras 50 kg beras setiap empat hari sekali.

Keterbatasan ruang penyimpanan berarti dirinya harus membeli persediaan dalam jumlah kecil hampir setiap hari, sehingga pembelian dalam jumlah besar menjadi sulit.

Banyak orang mempertanyakan apakah dengan harga S$2,50 realistis untuk makanan yang ia sajikan. Hani menjawab jika hal yang dianggap rendah bagi orang lain mungkin masih terlalu mahal bagi sebagian pelanggan.

Setelah hampir enam tahun menjalankan kios tersebut, Hani mengungkap kepada BH bahwa para pelanggan telah menjadi bagian dari hidupnya. Selama ini tujuannya juga bukan untuk menjual makanan, tetapi untuk melayani masyarakat di sini.

"Karena itulah, jika suatu hari saya tidak dapat melanjutkannya lagi, saya merasa akan kehilangan tujuan hidup saya," jelasnya.



(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads