Invasi ikan sapu-sapu di Jakarta cukup mengkhawatirkan. Sebenarnya ikan ini berisiko jika dikonsumsi, tetapi masih sering dipakai untuk olahan siomay. Lantas, bagaimana rasa dan teksturnya?
Populasi ikan sapu-sapu yang banyak ditemukan di aliran sungai Jakarta menimbulkan kekhawatiran. Awalnya ikan tersebut banyak dianggap sebagai hewan pembersih kolam. Namun karena sifatnya yang invasif, akhirnya ikan sapu-sapu dibasmi karena dapat mengancam keseimbangan ekosistem.
Terlepas dari populasinya yang membludak, ikan sapu-sapu juga bukanlah jenis ikan untuk dikonsumsi. Pasalnya jika dimakan, bisa menimbulkan risiko bahaya karena hidup di air yang tercemar. Dalam jangka panjang, mengonsumsi ikan sapu-sapu yang terapapar logam berat dapat berisiko merusak sistem saraf dan otak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengonsumsi ikan ini juga bisa merusak organ hingga penyakit kronis. Selain itu, proses pengolahan yang tidak higienis juga bisa menimbulkan risiko kontaminasi silang yang membahayakan.
Konsumsi ikan sapu-sapu bisa membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Foto: Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority) |
Meski begitu, di Indonesia ikan sapu-sapu termasuk bahan yang kerap dijadikan campuran adonan siomay. Harganya yang murah membuat beberapa penjual lebih senang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai campuran adonan dibandingkan ikan tenggiri atau jenis ikan laut lainnya.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa perbedaan yang bisa diperhatikan dari siomay yang menggunakan ikan sapu dengan siomay menggunakan ikan tenggiri:
1. Warna: Siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu cenderung lebih gelap dan keabu-abuan daripada siomay ikan tenggiri karena daging ikan sapu-sapu yang cenderung kusam.
2. Aroma: Siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu juga cenderung memiliki aroma tajam dan aroma amis langsung tercium ketika menikmatinya. Berbeda dengan siomay ikan tenggiri atau ikan laut lain yang umumnya tercium gurih, tidak amis.
3. Tekstur dan rasa: Tekstur siomay dari ikan sapu-sapu dinilai terasa alot, susah dikunyah, dan tidak mudah hancur seperti siomay ikan tenggiri. Rasa gurihnya juga tidak 'bersih' dan meninggalkan aftertaste tidak nyaman di lidah.
4. Harga: Siomay dari ikan sapu-sapu biasanya lebih murah. Dengan harga Rp 10.000 sudah dapat seporsi siomay lengkap dengan kondimen lain, seperti pare, kentang, dan tahu. Sedangkan siomay ikan tenggiri umumnya dibanderol Rp 5.000 - Rp 15.000 per buah dengan ukuran yang tidak begitu besar.
Memang banyak penjual siomay di Indonesia yang masih memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran utama. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga penjual siomay yang masih lebih mementingkan kualitas.
Ditemui oleh tim detikFood (29/1), salah satu penjual siomay di Depok Dua Tengah, depan Rumah Sakit Primaya bernama Adi mengaku jika dirinya menggunakan ikan tenggiri untuk membuat siomay dan batagor. Menurutnya memang ada penjual yang memakai jenis ikan lain, seperti tongkol atau ikan laut asin, tetapi untuk menggunakan ikan sapu-sapu, menurutnya penggunannya kurang tepat.
Penjual siomay lain di sekitar Staisun Tebet, Jakarta Selatan juga mengungkap kalau dirinya tidak pernah menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan utama siomay yang dijual. Ia selalu menggunakan jenis ikan laut. Soal isu penjual lain yang pakai ikan sapu-sapu, penjual bernama Amin tidak menghakiminya karena itu merupakan urusan masing-masing.
Beberapa penjual siomay yang ditemui tim detikFood memberikan pandangan soal penjual lain yang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai campuran. Foto: Dita Aliccia Armadani/detikFood |
Para chef juga sempat mengungkap pandangannya soal konsumsi siomay berbahan dasar ikan sapu-sapu.
Berbicara kepada detikFood (28/1), chef Stefu Santoso mengungkap dirinya tidak tahu pasti apakah ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi atau tidak.
"Dari pemahaman saya selama tidak berbahaya dan tidak mengandung racun tertentu bisa aja sih," ujarnya.
Namun menurut chef Stefu, asal usul ikan sapu-sapu tersebut harus benar-benar diketahui. Jika berasal dari sungai yang tercemar, maka tidak disarankan untuk dikonsumsi.
Chef Stefu menambahkan, "Karena jenis ikan ini pemakan lumut dan kotoran yang ada di lingkungan perairan. Terbiasa terdapat di sungai jadi biasanya tidak disarankan untuk dikonsumsi."
Chef Ragil Imam Wibowo juga memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda. Menurutnya ikan sapu-sapu aman dikonsumsi asal habitatnya jelas, bukan yang hidup liar di sungai Ciliwung.
"Ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi asal ekosistemnya bersih dan terkontrol, bukan ikan sapu-sapu yg hidup liar di kali (sungai) Ciliwung," jelas chef Ragil.
(aqr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN