Kasus pencurian terbesar dalam dunia kuliner bukan satu atau dua kali saja terjadi. Mulai dari cokelat hingga keju, pernah hilang dengan total kerugian fantastis.
Tak sekadar kabur dari tagihan makan atau pencurian segelintir bahan makanan, di dunia kuliner juga pernah terjadi kasus pencurian dalam jumlah besar yang membuat gempar.
Tak tanggung-tanggung jumlah yang dicuri bisa mencapai belasan ton. Sementara kerugian yang ditimbulkan menyentuh hitungan milyar yang membuat banyak orang penasaran dengan motifnya.
Seperti yang baru-baru ini terjadi, misalnya, ada pencurian cokelat dalam proses pengiriman sebanyak 12 ton. Sebelumnya juga pernah terjadi pencurian keju yang membuat selebriti chef Jamie Oliver turun tangan.
Berikut ini 5 kasus pencurian besar dalam dunia kuliner:
1. Pencurian KitKat 12 Ton
Kasus pencurian dalam jumlah besar kembali menghebohkan publik, kali ini melibatkan produk cokelat populer, KitKat. Sebanyak 12 ton cokelat dilaporkan hilang saat proses distribusi, bahkan bersama truk pengangkutnya.
Insiden tersebut terjadi saat pengiriman dari Italia menuju Polandia, dengan total kehilangan mencapai 413.793 batang cokelat. Pihak Nestlé selaku produsen menyebut truk tersebut tiba-tiba menghilang di tengah perjalanan tanpa jejak yang jelas.
Hingga kini, lokasi pasti hilangnya kendaraan tersebut belum diungkap, namun investigasi terus dilakukan bersama otoritas setempat. Untuk mengatasinya, perusahaan sengaja menciptakan aplikasi tracker untuk meminta bantuan publik mencari cokelat yang hilang.
2. Lobster Seharga Rp6 Miliar Hilang
Kasus pencurian tak biasa terjadi di Amerika Serikat ketika pengiriman lobster bernilai fantastis dilaporkan hilang di tengah perjalanan. Nilai kerugian mencapai hampir 400.000 dolar AS atau setara sekitar Rp6 miliar.
Pengiriman tersebut diketahui berangkat dari gudang di Massachusetts dan seharusnya tiba di sejumlah gudang ritel besar di wilayah Midwest. Namun, hingga waktu pengantaran, muatan lobster itu tak pernah sampai tujuan.
Modus yang digunakan pelaku diduga sangat rapi, termasuk pemalsuan identitas sopir lengkap dengan dokumen resmi dan sistem komunikasi yang sulit dilacak. Kasus ini semakin serius hingga melibatkan Federal Bureau of Investigation (FBI) dalam proses penyelidikan.
(dfl/adr)