ADVERTISEMENT

Boba Bisa Tidak Halal Karena 2 Bahan, Ini Penjelasan MUI

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Jumat, 24 Jun 2022 08:00 WIB
Boba Bisa Tidak Halal Karena 2 Bahan, Ini Penjelasan MUI
Foto: Getty Images/iStockphoto/Jobrestful
Jakarta -

Boba atau bubble tea jadi minuman populer dan favorit di Indonesia, tapi muslim perlu waspada. MUI menjelaskan ada titik kritis kehalalan boba dari penggunaan dua bahan ini.

Boba berasal dari Taiwan, berupa minuman teh susu dicampur mutiara kenyal berbahan tepung tapioka. Boba kini makin beragam variasinya, termasuk dipadukan dengan ragam minuman teh lain atau kopi.

Menemukan boba di Indonesia tidaklah sulit. Banyak penjual minuman kaki lima hingga merek minuman boba dari luar negeri sudah membuka cabangnya di sini.

Soal kehalalannya, boba sekilas 100% aman dikonsumsi muslim karena dibuat dari teh, susu, dan tepung tapioka. Namun ternyata tetap ada titik kritis kehalalan boba yang perlu diwaspadai muslim.

Konten kreator yang fokus membahas makanan halal, Dian Widayanti menjelaskan hal ini melalui videonya (18/6). Pertama, ia mengatakan boba mungkin tidak halal karena pemakaian boba itu sendiri atau sering disebut mutiara.

"Untuk membuat adonan ini biasanya menggunakan tepung tapioka, air, dan brown sugar. Tapi nggak jarang juga boba itu dicampur dengan gelatin," katanya.

Boba Bisa Tidak Halal Karena 2 Bahan, Ini Penjelasan MUIPenggunaan gelatin untuk boba perlu diwaspadai kehalalannya oleh muslim. Foto: Getty Images/iStockphoto/Jobrestful

Gelatin dipakai untuk membuat boba kental dan kenyal. "Hati-hati terutama dengan merek boba impor karena di luar negeri itu lebih lazim dengan gelatin babi dari pada gelatin sapi," katanya.

Kedua, titik kritis boba ada pada varian rasa nonhalal. "Ada juga minuman boba yang menjual varian rasa seperti rum, Baileys, Kahlua, dan sebagainya," katanya.

Minuman tersebut diketahui sebagai khamr. Di dalamnya terkandung alkohol yang jelas haram bagi muslim.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara khusus juga pernah membahas kehalalan boba. Melalui situs resminya (3/4/2020), pihaknya menjelaskan titik kritis boba berdasarkan pendapat Dr. Ir. Sedarnawati Yasni, M.Agr, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor sekaligus auditor halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Ia mengatakan, "Sebenarnya titik kritis halal boba cukup rendah karena proses pembuatannya menggunakan teknologi yang minimal. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah penggunaan gula. Dalam hal ini, ada dua jenis gula yang bisa digunakan, yakni gula aren dan gula pasir," jelas Sedarnawati.

Boba Bisa Tidak Halal Karena 2 Bahan, Ini Penjelasan MUIMUI menilai gula pasir pada boba bisa jadi titik kritis kehalalan boba. Foto: Getty Images/iStockphoto/Jobrestful

Jika dilihat dari komposisi bahan bakunya, pengolahan gula aren hanya melibatkan sedikit bahan kimia, yakni sodium metabisulfit. Titik kritis kehalalan zat ini terbilang rendah. Sementara proses pembuatan gula pasir perlu melalui beberapa tahapan, mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan.

Tahapan-tahapan proses ini berpeluang menggunakan bahan dekolorisasi yang menggunakan karbon aktif. Apabila karbon aktif ini berasal dari hasil tambang atau dari arang kayu, maka tentu tidak jadi masalah. Namun jika menggunakan arang tulang, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai syariat Islam.

Selain itu, gelatin juga menjadi salah satu bahan yang terkadang digunakan dalam boba. Bahan pengenyal ini memiliki titik kritis tinggi. Lazimnya, gelatin dibuat dari tulang maupun kulit hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ikan juga babi. Apabila gelatin yang digunakan berasal dari hewan, maka perlu dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih sesuai dengan syariat Islam.

Boba Bisa Tidak Halal Karena 2 Bahan, Ini Penjelasan MUIBerasal dari Taiwan, boba kini jadi minuman populer di Indonesia. Foto: Getty Images/iStockphoto/Jobrestful

"Gelatin itu merupakan salah satu bahan yang kritis dari sisi kehalalannya bagi umat Muslim. Karena hampir semua produk gelatin itu diimpor dari luar negeri. Padahal ia banyak digunakan untuk berbagai macam produk konsumsi sehari-hari," tutur Ir. Muti Arintawati, M.Si., Direktur Audit Halal LPPOM MUI.

Sebagai solusi, muslim bisa mengonsumsi boba atau produk boba kemasan, hanya dari produsen yang sudah mengantongi sertifikat halal. Jumlahnya kini juga sudah semakin banyak di pasaran.

(adr/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT