Cara Rotihui Buktikan Roti Rumahan Bisa Bersaing dengan Roti Mal

Nurcholis Maarif - detikFood Kamis, 24 Jun 2021 13:19 WIB
Roti Ebi yang Dibuat Rotihu Foto: Rotihui


Diungkapkannya, flash sale, kupon-kupon, program hingga adanya cashback dari marketplace turut membantu penjualan Rotihui. Adapun selama pandemi, penjualan Rotihui juga turut meningkat 20-30%.

"Eskalasinya uptrend, bisa sampai 20-30%. Mungkin karena PSBB, PPKM, orang malas keluar, terus dapat referensi, akhirnya beli. Untuk bulan Maret, April, Mei naik terus. Omzet fluktuatif, pernah sampai Rp 100 jutaan per bulan, karena ada Lebaran, itu dari roti dan kue kering," ujarnya.

Lebih lanjut Kimanto menjelaskan roti yang dibuat Rotihui bisa tahan hanya tiga hari karena tidak memakai bahan pengawet. Makanya Rotihui hanya menerima pembelian roti untuk pengiriman same day dan next day saja. Setiap harinya, Rotihui yang memiliki 12 karyawan ini bisa membuat 500-1.000 roti. Angka ini fluktuatif dan tergantung pesanan.

"Kita punya selling point sendiri, pertama home bakery itu lebih condong karena artisan bakery. Kita homemade, bahan-bahannya benar-benar kita yang bikin, tepung, filling kita semua yang bikin. Kacang merah, ebi kita bikin sendiri, kita datangkan dari Pontianak, isi ayam kita olah sendiri, jadi bukan dari pabrikan," ujarnya.

Tips untuk UMKM Roti Lainnya: Jaga Kualitas Produk

Ia juga membagikan tips sukses menjalankan bisnis roti miliknya tersebut. Pertama, jujur dengan produk yang dibuat. Lalu kedua, tidak main di harga, tetapi bersaing dalam kualitas produk. Menurutnya, jangan mengambil margin yang terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.

"Contoh roti ebi waktu itu ada yang jual juga orang Pontianak ada Rp 5 ribu, saya masuk langsung Rp 7 ribu. Kita nggak bersaing harga, kita lebih condong ke kualitas. saya datang sebagai pemain baru, tapi datang bukan sebagai kompetitor, jadi saya masuk ke situ, tapi akhirnya punya saya diterima, orang tetap mau beli ke saya," ujarnya.

Saat ini rata-rata harga varian Rotihui di kisaran Rp 8.000. Menurut Kimanto, harga tersebut sudah layak untuk roti dengan isian banyak, meski lebih mahal dibanding roti warung atau lebih murah dibanding roti yang ada di mal.

"Saya penggemar roti, anak-anak saya juga penggemar roti, tapi kalau beli roti-roti itu isinya secuil aja. Misalnya roti coklat, kan rotinya gede tapi isi secuil coklat doang. Jadi worth it lah, lu beli Rp 8.000 isinya banyak," ujarnya.

Untuk penjualan, Kimanto menyarankan untuk selalu update terkait informasi yang didapat dari marketplace dan mengikuti berbagai program yang ditawarkan. Sebab ini penting untuk menarik penjualan dari konsumen.

"Awal starting kita, Tokopedia ada sediakan free untuk broadcast chat. Broadcast itu juga penting ngingetin pelanggan untuk beli kembali, atau menarik konsumen untuk coba-coba rotinya. Ada broadcast chat, sama flash sale, ikut-ikut aja fitur yang baru, sama kita pelajari analisisnya mana yang menghasilkan. Lalu harus ada iklannya lah, jangan pasif," pungkasnya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(ncm/ega)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com