Cara Rotihui Buktikan Roti Rumahan Bisa Bersaing dengan Roti Mal

Nurcholis Maarif - detikFood Kamis, 24 Jun 2021 13:19 WIB
Roti Ebi yang Dibuat Rotihu Foto: Rotihui
Jakarta -

Roti merupakan penganan yang familiar dan digemari masyarakat Indonesia, baik sebagai snack maupun sebagai pengganjal sebelum makan besar. Ini juga yang membuat roti menjadi komoditas dan memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

Namun, di tengah persaingan bisnis dan banyaknya brand bakery besar yang muncul, ternyata roti rumahan dan lokal masih mendapat tempat di kalangan masyarakat Indonesia. Hal itu dibuktikan Rotihui yang menjual roti ebi, roti khas dan hanya ada di Pontianak, sejak tahun 2014 di Jakarta.

"Roti Ebi, roti khas Pontianak. Itu roti sejarah yah, cuma ada di Pontianak, budaya, sejarah, dan kuliner khas Pontianak, tempat lain ga ada. Ebi itu isinya udang kering cincang. Roti asin, bentuknya simpel, bulat doang gitu, dalamnya isinya ebi," ujar pemilik Rotihui, Kimanto Effendi kepada detikcom belum lama ini.

Kimanto menjelaskan awalnya pasar roti ebi ini hanya komunitas dan orang-orang Pontianak yang ada di Jakarta. Namun seiring waktu, roti ebi juga disukai lebih banyak orang. Saat ini, selain roti ebi, Rotihui menjual 12 varian roti dan kue kering.

"Lumayan best seller itu roti ebi, roti bakso ayam. Roti ebi kita dikenal kalangan orang Pontianak, tapi orang Jakarta juga banyak yang suka. Sambutannya oke, karena kita roti rumahan, keunggulannya nggak pakai pengawet, bikinnya nggak skala besar, dari garasi aja bikinnya," ujarnya.

Merambah Penjualan Lewat Marketplace

Sejak awal berdiri, Rotihui tak hanya memanfaatkan penjualan lewat offline saja, yaitu menitipkan roti yang dijual dari toko ke toko. Namun, Rotihui ikut memanfaatkan penjualan lewat Blackberry hingga Facebook.

Lalu seiring waktu, Rotihui mulai merambah layanan platform antar makan hingga marketplace. Saat ini, Kimanto bahkan mengaku selalu mengarahkan calon konsumen untuk membeli lewat marketplace karena lebih praktis, baik dari segi pembeli maupun konsumen.

"Pas awal-awal, sangat awal, marketplace orang agak kurang percaya, karena di Indonesia itu orang pada tahu (belanja) fisik, orang tanya mengenai produk. Karena banyak juga, saya ada pasang toko di Tokopedia. (Sekarang) orang beli saya alihkan ke Tokopedia karena lebih praktis," ujarnya.

"Kita nggak perlu ngurus alamat, nggak perlu mikir pengirimannya, serba otomatis, sama pencatatannya juga jauh lebih jelas. Saya banyak alihkan, kalau mau cepat ke Tokopedia, varian-variannya juga (bisa dilihat di situ). Saya pasang Instagram juga direct-nya ke marketplace, call to action juga ke marketplace. Jadi kita handle-nya juga ga satu-satu, produk ini produk itu, bisa lihat di etalase, uraian-uraian orang," jelas Kimanto.

Menurutnya, saat ini orang juga mulai percaya belanja makanan di marketplace, selain platform layanan antar makanan. Apalagi sejak mendapat izin usaha dan label halal MUI serta ditambah menjadi toko ofisial, banyak keuntungan yang didapatkan Rotihui.

"Masuk ke Tokopedia nggak ada komisi, fee penjualan, makanya varian lebih murah. Customer juga larinya ke marketplace, kepercayaan masyarakat kan bisa dilihat dari ulasan-ulasan. Dari segi volume penjualan, jadi orang juga beralih," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com