Selama Ramadan, kurma mudah ditemui di pasaran. Namun, pastikan memilih kurma yang alami dan segar. Pakai tips ini untuk mengenali kurma tanpa pemanis buatan!
Kurma selama ini dikenal sebagai buah yang identik dengan bulan Ramadan. Karena, buah ini masuk dalam sunnah Rasul untuk dikonsumsi sebagai takjil dengan jumlah ganjil.
Jenis kurma yang beredar di pasaran selama Ramadan sangat beragam. Mulai dari medjool, sukari, hingga kurma Ajwa (kurma Nabi).
Diketahui kalau kurma memiliki rasa manis alami, terasa legit di setiap gigitannya. Namun, banyak juga oknum penjual kurma yang melakukan kecurangan dengan menambahkan sirup glukosa.
Seorang netizen dengan akun @SeputarTetangga membuat unggahan soal kurma yang mengandung sirup glukosa. Pihak BPOM RI telah menjelaskan kalau campuran sirup glukosa memang sering ditambahkan pada buah kering, termasuk kurma, seperti dikutip dari detikHealth (25/2/2026).
Meski diperbolehkan dan masih dalam batasan wajar, penting untuk memerhatikan pembelian kurma. Karena, jika kurma mengandung gula tinggi dan dikonsumsi rutin selama Ramadan, dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan.
Dirangkum dari berbagai sumber, ini tips memilih kurma tanpa pemanis buatan di pasaran:
1. Periksa daftar komposisi
Kurma yang banyak ditawarkan di pasaran biasanya telah dikemas per boks dengan berbagai merek. Jika membeli kurma kemasan seperti ini, maka lebih mudah mengontrol komposisinya.
Kamu perlu memeriksa daftar komposisi kurma tersebut. Jika kurma yang kamu beli manis alami, maka tidak akan ada kandungan gula, sirup glukosa, hingga bahan pengawet yang tercantum.
2. Warna alami
Kurma alami tentunya memiliki warna yang alami. Warna alami kurma adalah cokelat, tergantung jenisnya. Ada kurma berwarna cokelat terang maupun tua.
Hindari membeli kurma yang warnanya mengilap. Karena berpotensi mengandung pemanis tambahan.
3. Tekstur kurma
Jika kurma tampak terlalu basah, maka bisa dicurigai mengandung pemanis tambahan. Perhatikan teksturnya, karena kurma yang alami biasanya memiliki tekstur kenyal dan permukaannya cenderung kering.
Baca Juga:
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
(yms/adr)