×
Ad

Telur Ceplok vs Telur Dadar, Mana yang Lebih Sehat Menurut Pakar Gizi?

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Rabu, 22 Jul 2026 06:00 WIB
Foto: iStock
Jakarta -

Olahan telur ceplok dan telur dadar punya banyak penggemar. Dari sisi nutrisi, mana yang lebih menyehatkan di antara keduanya? Begini kata pakar gizi IPB.

Saat sarapan, banyak orang mengandalkan konsumsi telur yang praktis dan enak. Telur juga bernutrisi karena mengandung kombinasi protein berkualitas tinggi, lemak sehat, serta berbagai vitamin dan mineral yang membantu tubuh tetap berenergi dan kenyang lebih lama setelah bangun tidur.

Berbagai olahan telur pun jadi favorit orang Indonesia, termasuk telur ceplok dan telur dadar yang sama-sama jenis telur goreng. Di antara keduanya, ternyata ada perbandingan kandungan gizi yang bisa jadi pertimbangan untuk pilihan lebih sehat.

Hal ini diungkap Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani. Mengutip situs IPB University (17/7), Dr Karina mengatakan secara umum telur ceplok dan telur dadar memiliki kandungan gizi yang hampir sama.

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan selama proses pengolahan. Hal tersebut terkait kandungan kalori dan lemak olahan telur nantinya.

Telur dadar berpotensi memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi karena cenderung menyerap lebih banyak minyak. Selain itu, penambahan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Dr Karina juga menyoroti proses masak telur yang justru bisa meningkatkan kualitas gizinya. "Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar telur tidak dimasak pada suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60-80 derajat Celsius.

Jika telur dimasak di atas 150-160 derajat Celsius, maka berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizinya.

Selain itu, Dr Karina mengungkap, ada olahan telur ideal untuk mereka yang sedang diet atau jaga berat bada. Ia menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus.

Namun, ia menegaskan bahwa telur ceplok maupun telur dadar tetap dapat menjadi pilihan selama penggunaan minyak dibatasi. Kamu bisa mengakalinya dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.

Menyoal konsumsi kuning telur yang kerap dikaitkan dengan efek meningkatkan kadar kolesterol, Dr Karina meluruskan anggapan tersebut.

Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.

Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Karena itu, Dr Karina mengimbau agar masyarakat tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dengan tetap memperhatikan cara pengolahannya.




(adr/adr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB