Personel BTS, Jung Kook, mengungkapkan dirinya menjalani pola diet makan satu kali sehari atau dikenal dengan metode OMAD (One Meal A Day). Apakah pola makan ini aman untuk kesehatan?
Melansir NDTV (25/3), OMAD merupakan salah satu bentuk ekstrem dari intermittent fasting. Pola makan ini menarik perhatian publik, terutama karena dilakukan bersamaan dengan rutinitas olahraga intens.
Dalam metode ini, seseorang mengonsumsi seluruh kebutuhan kalori harian hanya dalam satu waktu makan. Biasanya dalam jangka waktu sekitar satu jam, lalu berpuasa selama 23 jam sisanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jungkook BTS mengungkap dirinya menjalani diet OMAD (One Meal A Day). Foto: dok. BIGHIT MUSIC |
Jungkook, member termuda boy group BTS, menjalani pola ini sebagai bagian dari rutinitasnya. Diet ini semakin populer, terutama di kalangan publik figur, karena dianggap memiliki sejumlah manfaat.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan ini dapat membantu penurunan berat badan, meningkatkan metabolisme lemak, serta memperbaiki sensitivitas insulin.
Selain itu, membatasi waktu makan juga dapat mengurangi kebiasaan ngemil dan membantu mengontrol asupan kalori harian.
Namun, para ahli menekankan bahwa manfaat tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi tertentu, seperti adanya pengawasan medis dan rutinitas olahraga yang teratur. Bahkan, meski dapat membantu pengendalian berat badan, diet ini dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa program diet ekstrem seperti OMAD memiliki tingkat keberlanjutan yang rendah. Di sisi lain, risiko dari diet ini juga perlu diperhatikan. Mengonsumsi seluruh kebutuhan nutrisi dalam satu kali makan dinilai cukup sulit secara fisiologis.
Tubuh sebenarnya membutuhkan asupan energi yang stabil sepanjang hari, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas tinggi. Tanpa asupan yang cukup dan terdistribusi, seseorang bisa mengalami kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga performa fisik yang menurun.
Efek samping lain yang mungkin muncul, antara lain kembung, gangguan penyerapan nutrisi, serta lonjakan dan penurunan kadar gula darah secara drastis.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu defisiensi nutrisi, kehilangan massa otot, hingga perlambatan metabolisme. Bahkan, beberapa gejala seperti pusing, sakit kepala, gangguan tidur, dan kelelahan juga bisa terjadi saat tubuh tidak mampu beradaptasi dengan pola makan ini.
Pada perempuan, diet ekstrem ini juga berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk menyebabkan gangguan siklus menstruasi.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak OMAD tidak hanya terbatas pada energi tubuh, tetapi juga sistem biologis lainnya. Para ahli juga mengingatkan bahwa diet ini tidak bisa dilakukan sembarangan orang.
Gaya hidup, kebutuhan energi, hingga pengawasan medis yang dimiliki selebritas tentu berbeda. Oleh karena itu, mengikuti tren diet tanpa pertimbangan yang matang justru berisiko bagi kesehatan.
Sebagai alternatif, pola makan seimbang dengan asupan protein, biji-bijian utuh, buah, dan sayuran tetap menjadi pilihan yang lebih aman.
Metode puasa yang lebih ringan, seperti intermittent fasting dengan durasi 12-14 jam, juga dianggap lebih realistis untuk dijalani. Pada akhirnya, pola makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren.
(Dita Aliccia Armadani/adr)


KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN