ADVERTISEMENT

Diet Rendah Kalori Bisa Perpanjang Usia, Ini Kata Peneliti Jepang

Atiqa Rana - detikFood
Rabu, 18 Mei 2022 06:00 WIB
Diet Calories
Foto: iStock
Jakarta -

Kesehatan tubuh yang baik identik dengan pencapaian umur yang panjang. Ketika tubuh sehat terjaga, maka akan lebih sedikit terkena risiko penyakit berbahaya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, namun cara yang dilakukan pun haruslah benar. Salah satu hal yang bisa dilakukan agar dapat menjaga hidup yang lebih lama yaitu dengan mengurangi jumlah kalori dan makan di waktu yang tepat. Hal inipun telah diuji kepada hewan tikus dan mendapatkan hasil yang positif.

Dilansir dari sciencedaily.com (5/5), dalam Jurnal Science yaitu Howard Hughes Medical Institute Investigator Joseph, Takahashi dan rekannya melaporkan bahwa ratusan tikus yang telah melakukan diet rendah kalori selama empat tahun. Hasilnya mereka mampu hidup 10% lebih lama.

Tetapi jika tikus tersebut diet pada malam hari ketika masa paling aktif, maka perpanjangan usia hidupnya lebih besar hingga mencapai 35%.

Meskipun telah diujicoba pada hewan tikus dan hasilnya efektif, tetapi belum tentu hal tersebut akan berhasil di tubuh manusia. Menurut ahli biologi molekuler di University of Texas Southwestern Medical Center, terdapat penelitian yang baru dilakukan di New England Journal of Medicine. Diperlihatkan bahwa jika diaplikasikan kepada manusia, cara ini tidak efektif untuk mempercepat penurunan berat badan, namun mendorong manfaat kesehatan agar hidup lebih panjang.

Diet CaloriesDiet kalori jika diaplikasikan kepada manusia, cara ini tidak efektif untuk mempercepat penurunan berat badan, namun mendorong manfaat kesehatan agar hidup lebih panjang Foto: iStock

Pembatasan asupan kalori ke dalam tubuh manusia lebih sulit untuk dipelajari dibandingkan dengan hewan. Salah satu studi dari tim peneliti melakukan penilaian yang disebut CALERIE, mendapatkan hasil jika pengurangan kalori sederhana lebih bermanfaat untuk mengurangi tanda-tanda penuaan dini.

Akhir akhir ini telah banyak diet populer yang berfokus terhadap pembatasan kalori serta pengaturan waktu makan. Dilansir dari medicalnewstoday.com (13/12/2017), pemerintah Amerika Serikat telah menyebutkan bahwa rata rata laki-laki membutuhkan 2,700 kcal per hari, sedangkan wanita membutuhkan 2,200 kcal per hari.

Diet Caloriespemerintah Amerika Serikat telah menyebutkan bahwa rata rata laki-laki membutuhkan 2,700 kcal per hari, sedangkan wanita membutuhkan 2,200 kcal per hari Foto: iStock

Namun setiap orang belum tentu membutuhkan asupan jumlah kalori yang sama karena metabolisme setiap orangpun berbeda beda. Salah satu diet yang cukup populer adalah 'intermitten fasting', melakukan puasa pada jam jam tertentu setiap harinya.

Sebuah studi yang ditulis dalam jurnal Obesity di Tel Aviv mengungkapkan bahwa rata-rata mengasup 700 kcal pada pagi hari lebih ideal untuk menurunkan berat badan dan juga mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung dan juga kolesterol. Dengan melakukan pembatasan kalori maka tubuh akan menjadi lebih sehat. Hal ini erat pula kaitannya dengan jam makan yang harus teratur.

Diet CaloriesSalah satu diet yang cukup populer adalah 'intermitten fasting', melakukan puasa pada jam jam tertentu setiap harinya Foto: iStock

Cara pembatasan asupan kalori yang pengaturan waktu makan yang tepat juga telah diuji oleh tim Takahashi. Beberapa tikus dibatasi asupan kalorinya sebesar 30% hingga 40%, lalu diberikan jadwal makan yang berbeda beda. Hasilnya menunjukkan bahwa tikus dengan waktu makan yang dibatasi memiliki efek positif pada tubuh bahkan bisa menurunkan berat badan.

Meskipun penelitian lanjutan akan masih terus dilakukan, namun tidak ada salahnya untuk mencoba cara ini jika ingin hidup lebih sehat. Karena kalori yang terlalu banyak bukan hanya akan menaikkan berat badan, namun juga bisa mendatangkan risiko penyakit berbahaya bagi kesehatan.



Simak Video "Lagi Diet? Bisa Konsumsi Nasi Shirataki yang Rendah Kalori"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT