Apa Benar Makanan Fermentasi Lebih Sehat untuk Usus?

Ellia Avrizella Quenda - detikFood Senin, 14 Mar 2016 16:05 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta -

Proses fermentasi makanan dikenal sebagai cara mengawetkan makanan. Nyatanya selain lebih awet, makanan fermentasi memberikan pertumbuhan bakteri pada usus yang menyehatkan. ​

​Tampilan makanan fermentasi bisa jadi kurang menarik. Dikemas dalam botol dengan bau menyengat. Meski demikian makanan fermantasi yang dikenal sejak berabad silam punya manfaat kesehatan.

Negara-negara, seperti Korea dan Jepang merupakan negara yang mengolah makanan sayuran, ikan, dan kacang-kacangan dengan cara fermentasi.​ Belakangan makanan fermentasi selalu masuk daftar sebagai makanan sehat. Disukai oleh ahli nutrisi dan para chef ternama.​

Salah satu​ makanan fermentasi yang mendunia berasal dari ​Korea yang dikenal dengan kimchi dibuat menggunakan metode tradisional. ​Sawi putih​ direndam dalam air garam yang bertujuan untuk membunuh bakteri berbahaya.

Pada tahap berikutnya, bakteri yang tersisa, yang disebut Lactobacillus dapat mengubah gula dan karbohidrat menjadi asam laktat. Bakteri ini memelihara sayuran dan memberi rasa​ asam ​ tajam yang disukai banyak orang.

Perlu diketahui bahwa jenis bakteri ini tidak berbahaya bagi tubuh. Bakteri ini baik untuk pencernaan dan kesehatan.

Justru bakteri ini sangat dibutuhkan bagi usus untuk melawan bakteri berbahaya, mengembalikan keseimbangan sistem kekebalan tubuh, dan membantu tubuh bekerja lebih baik. ​Ini fakta menarik seputar makanan fermentasi.

1. Bekerja dengan baik



Bakteri baik ini disebut probiotik, yang secara harfiah berarti "untuk kehidupan", terkait dengan cara bakteri ini bekerja. Makanan fermentasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk, seperti yoghurt, krim asam, asam adonan roti, sayuran, chutney dan acar.

Bakteri probiotik seringpula ditambahkan dengan bakteri hidup atau ragi, jika makanan tidak dibuat menggunakan bakteri asam laktat seperti dalam kimchi.

Bahkan anggur dan bir dapat dimasukkan dalam daftar fermentasi, tetapi manfaat yang dihasilkan juga berbeda, sehingga tidak semua dapat digolongkan sebagai makanan sehat.

Namun, apakah bakteri baik yang hidup akan bertahan lama ketika berada di dalam usus manusia? Studi menunjukkan bahwa t​ak ada jaminan​ jika probiotik dikonsumsi secara teratur dan dalam jumlah cukup besar ​dapat ​tetap bertahan di dalam usus.

2. ​Di dalam​ ​u​sus



Banyak penelitian sedang dilakukan untuk mengetahui apakah probiotik dapat meningkatkan kesehatan seseorang tanpa efek samping tertentu.

Sejauh ini manfaat yang terlihat ​pada​ mereka yang memiliki iritasi usus dan penyakit inflamasi usus. Probiotik juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada alergi bayi dan orang dewasa.

Tapi Prof Spector men​yatakan pada BBC​ (13/03) bahwa penelitian pemberian probiotik pada manusia lebih sedikit dibandingkan dengan hewan.

Probiotik akan sangat terasa manfaatnya bagi mereka yang sakit, yang sangat muda atau yang sangat tua usianya. Namun, belum ada bukti pasti bahwa probiotik dapat memberikan kesehatan mutlak pada manusia.

​Sedangkan prebiotik ​memberikan makan bakteri yang bersifat menguntungkan dalam usus, memelihara, dan membantu bakteri untuk tumbuh.

3. Konsumsi sepuluh pisang sehari?



ASI adalah salah satu contoh baik makanan yang didukung oleh pr​e​biotik karena didukung pertumbuhan bakteri.

Dr. Walton mengatakan bahwa ​di​butuhkan konsumsi 10 pisang sehari untuk mendapatkan cukup prebiotik. ​Seperti​ bawang, asparagus, sawi putih, dan bawang putih yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Sauerkraut (scar mol), yoghurt, kimchi dan sup miso merupakan basil ferment​a​s​i​ yang mengandung mi​kroba ​bai​k​ yang diperlukan agar ba​kteri​ hidup lebih lama.

Menurut Dr Walton suit menentukan makanan ferments yang terabit. Karena semua makanan merupakan campuran ba​kteri​ yang akan lebih menguntungkan. Ada triliunan ba​kteri​ hidup di dalam us​u​s dan badan manusia. Lebih dari 10 kali lipat banyaknya dari sel tubuh.
 
Untuk menjawab semuanya, maka dalam Proyek Gut Inggris, peneliti menganalisis bakteri usus dari 2.000 orang. Tujuannya adalah untuk mengetahui spesies bakteri yang ada dalam usus dan jumlah populasi bakteri dalam tubuh manusia.

4. Negara ​ter​sehat
​Rencana akan ​membandingkan bakteri usus dalam taraf nasional untuk mengetahui negara mana yang memiliki pola hidup sehat.

Pola hidup yang diberlakukan di negara-negara Asia, yang memiliki tradisi makanan fermentasi, tampaknya mengarah pada kesehatan usus yang lebih baik.

Negara tersebut di antaranya; negara-negara seperti C​h​ina, Jepang dan Korea. Berbeda dengan pola hidup Barat yang didominasi dengan konsumsi gula dan makanan cepat saji, sehingga perlu lebih banyak probiotik.

Intinya, untuk menjaga kesehatan usus Anda, maka yang perlu dilakukan adalah mengonsumsi variasi makanan yang mengandung probiotik.

(adr/odi)