Influencer makanan mengulas menu restoran untuk berbagi informasi lewat video maupun foto. Namun, terkadang sikap yang dilakukan influencer ini dianggap menganggu.
Belakangan ini banyak orang memutuskan jadi influencer makanan atau food influencer. Mereka biasanya membagikan pengalaman ketika makan di sebuah restoran atau rumah makan tertentu.
Selain fokus mengulas makanan, food influencer juga mengomentari suasana restoran atau gerai, harga makanan, sekaligus pelayanan yang mereka dapatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Food influencer juga kerap merekam dan memotret makanan dan suasana restoran. Lalu nantinya hasil rekaman tersebut dibagikan lewat unggahan media sosial, seperti Instagram, TikTok, atau Youtube.
Unggahan video atau foto food influencer mungkin memanjakan banyak netizen atau pelanggan yang juga penasaran dengan makanan tertentu. Namun, di sisi lain, apa yang dilakukan oleh food influencer juga dianggap mengganggu.
Apa saja sikap influencer makanan yang sering dianggap menjengkelkan? Dilansir dari Times of India (10/6), berikut daftarnya.
1. Menyebut setiap tempat 'hidden gem'
Tempat makan hidden gem ini sering kali disebutkan oleh influencer makanan padahal aslinya tidak. Foto: Getty Images/iStockphoto |
Kata-kata 'hidden gem' sering kali dipakai oleh food inlfuencer. Hidden gem sendiri adalah istiah yang digunakan untuk menyebut suatu tempat tersembunyi namun memiliki nilai tinggi, layaknya permata. Dalam bahasa gaul, kata ini digunakan untuk menyebut suatu tempat, objek, atau destinasi kuliner yang bernilai tetapi belum banyak diketahui orang.
Namun, sejumlah influencer kadang menggunakannya untuk hal yang sebenarnya sudah banyak diketahui orang atau populer. Secara praktis, hal tersebut tidak bisa disebut 'hidden gem' atau tersembunyi. Akhirnya menimbulkan kekecewaan bagi banyak orang karena apa yang disebutkan tidak sesuai dengan tempatnya.
2. Memberi efek berlebihan
Ilustrasi (Terkadang reaksi yang dibagikan influencer makanan berlebihan). Foto: Getty Images/iStockphoto |
Reaksi para influencer makanan terkadang dianggap berlebihan, seperti pura-pura terkejut saat menggigit makanan pertama kali.
Hal ini dinilai palsu atau merusak standar objektivitas. Penonton terkadang merasa lelah dengan ekspresi dramatis, penggunaan kosa kata klise, atau pujian berlebihan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
3. Minta makanan gratis
Salah satu keluhan paling umum dari setiap pemilik usaha yaitu ketika ada food influencer datang untuk mengulas tetapi minta makanan digratiskan.
Penting untuk dipahami jika segala sesuatu ada harganya. Oleh karena itu, meminta makanan gratis sebenarya dianggap sebagai sikap memalukan dan dinilai arogan, terlebih ketika mereka memeras bisnis kecil.
Food influencer diharapkan bisa memberikan ulasan yang jujur. Membayar makanan jika memang mereka benar-benar menyukainya. Tidak bersikap seoalah 'lebih tinggi' ketika mereka memamerkan jumlah follower yang besar dan menuntut perlakuan istimewa. Sikap seperti ini sering dinilai tidak sopan.
4. Menyembunyikan kebenaran
Sikap lain yang dikesali yaitu ketika food influencer memberi ulasan tidak jujur. Makanan adalah subjek sensitif dan opini jujur tentang rasa, kebersihan makanan, dan keramahan pelayanan dianggap penting.
Banyak penonton merasa kecewa ketika food influencer menyembunyikan kebenarannya karena hal tersebut dianggap melanggar kepercayaan audiens.
Publik mengandalkan influencer sebagai referensi objektif. Jadi, ketika kejujuran hilang, konten dianggap menjadi iklan terselubung yang bisa merugikan konsumen.
Simak Video "Menikmati Masakan Rumahan Enak Khas Jatim di Kuluk Kuluk Rumahan"
[Gambas:Video 20detik] (aqr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN