5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna Mendalam

5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna Mendalam

Atiqa Rana - detikFood
Jumat, 17 Apr 2026 18:00 WIB
5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna Mendalam
Foto: Times of India
Jakarta -

Masyarakat Jepang dikenal memiliki ritual makan dengan pendekatan kesadaran (mindful eating) dan keseimbangan gizi. Sejumlah ritual ini tak sekadar membuat makanan lebih nikmat, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan budaya.

Di Jepang, makan bukan hanya dinilai sebagai sebuah kebutuhan. Namun orang Jepang memaknai hal ini dengan lebih mendalam.

Bahkan masyarakat Jepang punya ritual khusus saat makan yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuan dari proses menyiapkan makanan tersebut berubah dari kebutuhan menjadi jalan menuju hal lebih baik untuk memenuhi nutrisi spiritual maupun nutrisi tubuh. Ritual ini juga bukan semata-mata memenuhi tata krama, melainkan juga menjadi penghormatan dan rasa syukur.

Berikut 5 ritual makan orang Jepang yang bisa mengubah kebiasaan makan, seperti dilansir dari Times Of India (16/4).

ADVERTISEMENT

1. Itadakimasu

5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna MendalamSebelum mulai makan ada ritual itadakimasu sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Foto: Times of India

Sebelum menyantap makanan, orang Jepang biasa menyatukan kedua tangan sambil mengucapkan 'itadakimasu.' Secara langsung kata ini bisa diterjemahkan sebagai 'Saya dengan rendah hati menerima.'

Kata tersebut bukan sekadar ucapan 'selamat makan', melainkan ungkapan rasa syukur, hormat, dan kerendahan hati mendalam.

Praktik ini berakar dari Shinto dan Buddhisme dan merupakan ungkapan terima kasih kepada kehidupan tumbuhan dan hewan yang telah dikorbankan, serta upaya petani dan chef yang telah membantu menyiapkan hidangan.

2. Hara Hachi Bu

5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna MendalamHara Hachi Bun yaitu makan tidak sampai terlalu kenyang. Foto: Times of India

Secara harfiah 'hara' berarti perut, 'hachi' berarti delapan, dan 'bu' berarti bagian. Hal ini merujuk pada konsep berhenti makan sebelum perut benar-benar penuh atau kenyang maksimal.

Prinsip ini diciptakan oleh masyarakat Okinawa sebagai bagian dari landasan budaya mereka di wilayah Zona Biru (kawasan yang diakui secara global karena penduduknya memiliki harapan hidup sangat tinggi dan sehat).

Prinsip ini mengharuskan mereka untuk makan hanya sampai merasa kenyang 80%. Sebab, otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mendaftarkan sinyal kenyang yang dihasilkan perut. Berhenti makan sebelum mencapai 100% kenyang mencegah makan berlebihan dan kantuk setelahnya.

Dari sisi kesehatan, ritual ini bagus untuk membantu mengurangi asupan kalori secara alami, mencegah obesitas, hingga mengurangi ketegangan pada sistem pencernaan.

3. Menyeruput mi atau makanan berkuah

5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna MendalamDalam ritual jepang, ketika makan mie juga harus ada suara menyeruputnya. Foto: Times of India

Sebagian besar budaya di negara lain menganggap bahwa membuat suara di meja makan adalah hal yang tidak sopan. Tetapi di Jepang, menyeruput mi (slurping atau zuzutto), seperti ramen, soba, atau mie lainnya adalah hal penting. Kebiasaan ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak zaman edo.

Menyeruput mi adalah cara untuk menunjukkan bahwa makanan tersebut enak. Suara seruputan tersebut dianggap sebagai pujian kepada para chef atau pembuat mi.

Ritual menyeruput mi ini juga dipercaya membuat rasa mi lebih lezat. Ketika mi diseruput, udara yang terhirup bersamaan dengan mi membantu melepaskan aroma kuah dan bumbu, sehingga rasa kuah dan kaldunya lebih terasa.

4. Sankaku Tabe (Triangle eating)

5 Ritual Makan di Jepang yang Unik dan Punya Makna MendalamMakan secara bergantian atau traingel eating juga merupakan bagian rifual makan di Jepang. Foto: Times of India

Makanan Jepang umumnya disajikan dalam mangkuk kecil. Ritual 'triangle eating' atau sankaku kabe ini dilakukan dengan mengambil sedikit nasi dan memasukkannya ke dalam mulut. Kemudian menyesap sup, lalu mengambil sedikit lauk dan memasukkannya lagi ke mulut.

Mengulangi proses tersebut hingga semua makanan habis dimakan merupakan cara untuk menjaga keharomonisan rasa dan gizi seimbang.

Sankaku-tabe juga dianggap sebagai bagian dari etiket makan untuk menikmati seluruh hidangan yang disajikan seimbnag.

5. Hashi-Watashi

Hashi Watashi merupakan ritual makan di Jepang yang merujuk pada tindakan mengoper makanan dari sumpit ke sumpit secara langsung antara dua orang. Tetapi hal ini sebenarnya sangat dihindari lantaran dianggap sangat tidak sopan dan tabu dalam etiket makan Jepang.

Alasan utamanya karena cara tersebut menyerupai ritual pemindahan tulang jenazah menggunakan sumpit setelah kremasi di Jepang.

Etiket yang benar yaitu dengan memindahkan makanan tersebut ke piring kecil orang lain terlebih dahulu, bukan langsung dari sumpit ke sumpit.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Sambal Bajak, 'Teman' Menu Andalan"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads