Banyak yang Belum Tahu Ada Telur Grade B! Kenapa Jarang Dijual?

Banyak yang Belum Tahu Ada Telur Grade B! Kenapa Jarang Dijual?

Dita Aliccia Armadani - detikFood
Minggu, 07 Jun 2026 05:00 WIB
Close up fresh raw open egg on egg tray background
Foto: Getty Images/Kritchai Chaibangyang
Jakarta -

Banyak orang terbiasa melihat label Grade A pada kemasan telur di supermarket. Namun, ternyata ada juga telur Grade B. Apa perbedaannya?

Di pasar Indonesia, telur punya standar penilaian berdasarkan berat dan kualitas fisik serta kebersihannya. Dikutip dari berbagai sumber, telur dipasarkan dalam Grade AA atau mutu 1, Grade B atau mutu 2, dan Grade C atau mutu 3.

Sementara di Amerika Serikat, telur diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya, yaitu Grade AA, A, dan B. Dilansir dari Reader's Digest (8/4), penilaian ini dilakukan oleh inspektur dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan didasarkan pada kondisi fisik telur, bukan kandungan gizinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Telur Grade B merupakan kategori dengan kualitas visual paling rendah dibanding Grade AA dan A.

Ciri utamanya adalah putih telur yang lebih encer dan kuning telur yang cenderung lebih datar atau melebar. Selain itu, cangkangnya bisa memiliki noda atau tampilan yang kurang sempurna.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, penting dicatat bahwa perbedaan grade tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai gizi. Telur Grade B tetap aman dikonsumsi.

Baik USDA maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menegaskan bahwa grading hanya berkaitan dengan kualitas tampilan, bukan keamanan atau nilai gizi.

Kandungan protein dan nutrisi pada telur Grade B pada dasarnya sama dengan telur Grade A maupun AA. Faktor yang menentukan keamanan justru terletak pada cara penyimpanan dan pengolahan, seperti menjaga telur tetap dingin dan memasaknya hingga matang.

Alasan utama telur Grade B jarang dijual di supermarket adalah karena faktor visual. Telur jenis ini tidak memiliki tampilan yang menarik saat dimasak, misalnya saat digoreng atau direbus setengah matang, karena bentuknya mudah melebar dan kurang rapi.

Selain itu, struktur putih telur yang lebih encer membuatnya kurang ideal untuk hidangan yang membutuhkan bentuk yang utuh.

Sebagai gantinya, telur Grade B lebih banyak digunakan dalam industri makanan. Telur ini biasanya diolah menjadi produk seperti telur cair, telur beku, atau telur bubuk, yang kemudian digunakan dalam berbagai makanan olahan, kue, hingga layanan makanan di restoran.

Dalam kondisi tertentu, seperti gangguan pasokan akibat wabah flu burung, telur Grade B bisa saja muncul di pasaran untuk memenuhi kebutuhan. Namun, hal ini tergolong jarang terjadi.

Secara keseluruhan, label grade pada telur lebih berkaitan dengan kualitas fisik daripada nilai gizinya. Memilih telur sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan memasak, bukan semata-mata berdasarkan grade yang tertera di kemasan.

Hal serupa juga ditemukan pada telur Grade B di Indonesia. Telur yang masuk grade ini punya cangkang sedikit bernoda, tapi tidak kotor dan berdaki. Bentuknya sedikit bervariasi. Namun isinya tetap sangat layak dikonsumsi.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads