Pria ini berinisiatif 'mengumpulkan' tetangga melalui semangkuk sup. Tak disangka sup yang hangat buatannya membuat suasana pemukiman ini lebih akrab.
Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, hubungan antartetangga sering kali tidak dekat. Banyak orang tinggal berdampingan lama tanpa benar-benar mengenal tetangga mereka, padahal kehadiran tetangga bisa begitu penting, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga.
Pria ini pun punya inisiatif untuk menjalin kedekatan dengan para tetangga. Dilansir dari Mothership (1/6/2026), Dylan menginisiasi acara pembagian sup gratis.
Ia menggunakan area void deck atau ruang terbuka yang berada di lantai dasar blok hunian publik HDB yang berada di kawasan Tampines, Singapura. Kegiatan tersebut terbuka untuk siapa saja yang ingin datang, menikmati makanan, dan mengobrol dengan sesama warga sekitar.
Dylan berharap acara tersebut dapat menjadi ruang pertemuan yang membuat warga lebih mudah berinteraksi dan membangun koneksi sosial. Ia melihat bahwa banyak orang sebenarnya ingin berkenalan dengan tetangga, tetapi sering kali tidak memiliki alasan untuk memulai percakapan.
Sup dipilih karena merupakan hidangan yang sederhana. Menurut Dylan karakter sup yang mudah dinikmati bersama juga lebih cocok untuk menciptakan suasana hangat seperti kuah sup.
Menurut pengakuan Dylan, jumlah sup yang disiapkannya saat itu sebanyak 50 porsi. Ia juga awalnya sempat terkejut bahwa idenya disetujui oleh dewan kota.
Sup yang disajikannya terdiri dari dua jenis. Ada sup ayam dengan kuah bening serta sup kental yang berbahan labu serta wortel.
Dylan bahkan juga memikirkan kehalalan makanan yang disajikan. Ia yang tidak pernah menyajikan makanan halal sebelumnya, sampai mempelajari cara menyajikan sup yang halal dan layak untuk dimakan para tetangga termasuk yang Muslim sekalipun.
"Apa yang membuatku terkejut bukan sekadar orang-orang turun dan datang ke sini tetapi para tetangga secara alami mulai berbincang satu sama lain. Hal ini membuatku tersadar terkadang seseorang ingin berkomunitas tetapi mereka tidak memiliki alasan untuk berkumpul," ujar Dylan.
Dylan mengadakan kegiatan ini dengan pendanaan sendiri yang mencapai 89,93 Dolar Singapura atau setara lebih dari Rp1,2 juta. Ia berharap acara ini bisa mendapat perhatian, terutama dari komunitas sekitar, serta bisa dilakukan secara berkala setiap bulan.
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
(dfl/adr)