Kuliner menjadi agenda wajib bagi para pelancong saat liburan ke sebuah negara. Namun ada makanan lokal yang justru dianggap ekstrem oleh turis. Ini daftarnya.
Bagi sebagian pelancong, mencoba makanan lokal menjadi cara menarik untuk mengenal budaya setempat. Namun, tidak sedikit hidangan tradisional yang justru dianggap ekstrem atau mengejutkan bagi turis asing. Mulai dari olahan bagian tubuh hewan yang jarang dikonsumsi, larva serangga yang kaya protein, hingga hidangan yang disajikan dengan cara tidak lazim.
Ada pula minuman tradisional yang bahan utamanya cukup unik dan tampilannya membuat banyak orang ragu mencicipinya. Meski terdengar aneh bagi sebagian orang, makanan dan minuman tersebut telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner di negara asalnya.
Dilansir dari Wanderlust (06/03/2026), berikut enam makanan lokal di berbagai negara yang dianggap ekstrem oleh turis.
1. Ceker ayam
Di Hong Kong, ceker merupakan salah satu hidangan yang cukup populer, terutama dalam sajian dim sum khas Kanton. Makanan ini dikenal dengan sebutan Fung Jao atau phoenix claws.
Meski bagi sebagian orang terlihat tidak biasa, ceker ayam justru dianggap sebagai hidangan lezat dengan tekstur kenyal dan kaya kolagen di banyak negara di Asia. Proses pengolahannya cukup panjang.
Di Hong Kong, ceker ayam biasanya direbus terlebih dahulu, kemudian digoreng hingga kulitnya mengembang dan membentuk tekstur khas. Setelah itu, kaki ayam dimasak kembali dengan saus kacang hitam fermentasi atau saus abalon yang gurih. Hidangan ini biasanya disajikan panas sebagai menu dim sum atau camilan sebelum makan utama.
2. Shirouo no Odorigui
Di Jepang, terdapat hidangan unik bernama Shirouo no Odorigui yang secara harfiah berarti memakan ikan yang menari. Hidangan ini menggunakan ikan kecil transparan yang masih hidup dan biasanya disajikan dalam mangkuk berisi air. Cara menyantapnya cukup berbeda dari makanan pada umumnya.
Ikan kecil tersebut dicelupkan ke dalam saus kedelai, kemudian dimakan langsung saat masih hidup. Saat dimakan, ikan-ikan kecil itu akan bergerak di dalam mulut, sehingga muncul istilah 'dancing fish'.
Hidangan ini biasanya ditemukan di restoran tradisional Jepang atau penginapan bergaya ryokan. Meski bagi sebagian wisatawan asing terasa ekstrem, makanan ini tetap menjadi bagian dari pengalaman kuliner unik di Jepang.
3. Witchetty Grub
Witchetty grub merupakan salah satu makanan tradisional suku Aborigin di Australia. Makanan ini berupa larva berwarna putih yang berasal dari ngengat kayu dan biasanya ditemukan di akar tanaman tertentu di wilayah gurun. Meski terlihat tidak biasa, witchetty grub dikenal sangat bergizi karena mengandung sekitar 38% protein dan 40% lemak.
Larva ini dapat dimakan dalam kondisi mentah maupun dipanggang di atas bara api. Saat dimakan mentah, rasanya sering digambarkan lembut dengan cita rasa mirip kacang almond meski tampilannya lebih mirip ulat.
Sementara jika dipanggang, bagian luarnya menjadi renyah seperti kulit ayam dan bagian dalamnya lembut menyerupai telur orak-arik hangat.
(sob/adr)