Konsumsi makanan ultra-proses ternyata tak hanya berdampak pada kesehatan fisik. Studi terbaru menemukan efek menarik dan kaitannya pada gejala depresi. Berikut penjelasannya.
Makanan ultra-proses atau makanan olahan seperti sosis, keripik, nugget, minuman kemasan hingga munuman bersoda banyak dikonsumsi karena praktis, murah, dan mudah ditemukan.
Namun, sebuah studi awal menunjukkan bahwa mengurangi konsumsinya secara drastis mungkin berkaitan dengan perbaikan gejala depresi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari News Medical (24/09/2026), penelitian yang dipimpin University of California, San Francisco (UCSF) ini diterbitkan dalam JAMA Psychiatry pada 23 September 2026 dan didanai National Institutes of Health (NIH).
Peneliti membandingkan gejala depresi sebelum dan setelah peserta mengganti pola makan yang tinggi makanan ultra-proses dengan makanan yang lebih sehat.
The concept of malnutrition. Lots of junk food with top view. Obesity. Foto: Getty Images/iStockphoto/urfinguss |
Studi percontohan tersebut hanya melibatkan 20 orang dengan rata-rata usia 44 tahun. Sebanyak 70% peserta merupakan perempuan.
Seluruh peserta memiliki indeks massa tubuh (BMI) tinggi dan setidaknya satu gangguan metabolik, seperti hipertensi, diabetes, atau kadar kolesterol LDL tinggi. Sebanyak 14 peserta juga mengalami gangguan kecemasan (anxiety).
Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Selama empat minggu, satu kelompok tetap menjalani pola makan biasanya, sementara kelompok lain mengurangi makanan ultra-proses dengan panduan peneliti. Setelah empat minggu, kedua kelompok bertukar pola makan.
Hasilnya, peserta berhasil memangkas konsumsi makanan ultra-proses hingga lebih dari 85%. Setelah menjalani pola makan tersebut, gejala depresi mereka terlihat membaik cukup signifikan. Tingkat kecemasan juga ikut menurun, meski perubahannya tidak sebesar pada gejala depresi.
Makanan ultra-proses yang dimaksud mencakup camilan kemasan, makanan cepat saji, minuman manis, serta produk industri yang dapat mengandung pengawet, pewarna buatan, penguat rasa, dan pengemulsi.
cara mengonsumsi makanan olahan agar lebih sehat Foto: iStockphoto |
"Mengurangi jumlah makanan ultra-proses dalam pola makan bisa menjadi tantangan karena makanan ini sangat enak, murah, dan praktis," ujar penulis studi Nyasha Chagwedera, MD, PhD.
Chagwedera menjelaskan makanan ultra-proses dapat memicu dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan keinginan untuk kembali mengonsumsinya.
Ia juga menduga hubungan dengan depresi dapat melibatkan kondisi usus yang tidak seimbang serta kerusakan lapisan pelindung usus.
"Kerusakan usus ini dapat menciptakan peradangan kronis tingkat rendah di seluruh tubuh yang secara langsung menyebabkan depresi atau membuat seseorang lebih rentan mengalaminya," jelasnya.
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih berskala sangat kecil sehingga belum membuktikan bahwa mengurangi makanan ultra-proses dapat mengobati depresi.
Penulis senior Andrew Krystal menyebut studi tersebut berhasil menunjukkan penelitian serupa layak dilakukan dalam skala lebih besar. Para peneliti berencana memulai perekrutan peserta untuk studi fase kedua dengan skala yang lebih besar pada 2028.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN