ADVERTISEMENT

Kenapa Makanan Bisa Memberi Rasa Bahagia? Ini Alasan Ilmiahnya

Diah Afrilian - detikFood
Kamis, 20 Mei 2021 19:00 WIB
Kenapa Makanan Bisa Memberi Rasa Bahagia? Ini Alasan Ilmiahnya
Foto: iStock

Penelitian yang dilakukan selama tujuh tahun menemukan bahwa mereka yang meningkatkan konsumsi buah dan sayuran selama periode penelitian mengalami tingkat kebahagian yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan melalui kuesioner yang diisi oleh partisipan dan hampir semua yang makan makanan tinggi nutrisi mengungkapkan peningkatan kebahagiaan dan kepuasan hidup yang mereka alami secara umum.

Uji coba untuk melihat kaitannya makanan dengan kebahagiaan juga telah dilakukan dalam skala yang besar pertama kalinya dan diterbitkan pada tahun 2017. Tim peneliti melibatkan 67 orang partisipan yang memiliki masalah depresi secara klinis dan membaginya menjadi beberapa kelompok.

Salah satu kelompok partisipan disiapkan untuk melakukan pertemuan dengan ahli diet untuk mendapatkan pengarahan mengikuti diet tradisional Mediterania. Sedangkan, kelompok lainnya berfungsi dengan kelompok kontrol yang bertemu dengan asisten peneliti secara teratur untuk mendapatkan dukungan secara sosial tetapi tidak melakukan diet.

Kenapa Makanan Bisa Memberi Rasa Bahagia? Ini Alasan IlmiahnyaKenapa Makanan Bisa Memberi Rasa Bahagia? Ini Alasan Ilmiahnya Foto: iStock

Pada awal penelitian, kedua kelompok diberikan banyak makanan manis, daging olahan serta makanan ringan yang asin, rendah serat protein tanpa lemak hingga buah-buahan dan sayuran. Kedua kelompok tersebut diberikan kebebasan untuk memilih makanan yang ingin dikonsumsi, hasilnya kelompok yang diberi perlakuan diet melakukan hal berbeda yang cukup signifikan.

Kelompok yang diberikan perlakuan diet mengganti permen dan makanan cepat saji dengan makanan utuh seperti kacang-kacangan, buah0buahan dan atau biji-bijian. Mereka beralih dari roti putih ke biji-bijian utuh dan roti sourdough. Mereka juga sama sekali tidak menyentuh sereal manis dan lebih memilih muesli serta oatmeal.

Saat disajikan makanan cepat saji tinggi kalori seperti pizza, kelompok yang diberi perlakuan diet cenderung lebih memilih tumisan sayuran. Mereka juga bahkan mengganti daging yang diproses tinggi seperti ham, sosis dengan makanan laut dan seporsi kecil daging tanpa lemak.

Tetapi perlu dicatat bahwa dalam periode penelitian ini, para partisipan tetap diberikan antidepresan atau obat lain yang mereka butuhkan. Tujuan penelitian ini sebenarnya bukan untuk melihat apakah diet sehat dapat mengganti obat, namun cenderung pada apakah pola makan sehat dapat memberikan manfaat tambahan dan memberikan efek yang lebih baik pada partisipan.

Baca juga: Intuitive Eating, Cara Makan Sehat dan Enak yang Bikin Bahagia

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT