Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih

Luthfi Baihaqy - detikFood Selasa, 16 Mar 2021 11:00 WIB
Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih Foto: Luthfi Baihaqy/detikcom
Malang -

Kue lumpur buatan Verina ini tak cukup dimakan satu. Teksturnya lembut di bagian dalam dengan bagian luarnya kering. Enak dikunyah perlahan!

Siapa yang tak mengenal kue lumpur? Salah satu jajan pasar tradisional yang punya tesktur lembut halus kayak lumpur. Ada yang dibuat dari tepung terigu dan ada juga yang dicampur dengan kentang. Enak dikunyah saat masih hangat mengepul.

Kalau ingin mencicipi kue lembut yang creamy kamu bisa mencicipi kue lumpur kentang wolak walik. Jajanan ini dimasak dua kali dan dibolak-balik di atas panggangan besi agar bagian atas dan bawah kue matang merata dan agak kering.

Penjual kue lumpur wolak-walik, Verina, mengungkapkan kepada detikcom (11/03) bahwa ia telah berjualan di Pasar Oro-Oro Dowo sejak 2016. Namun ia telah merintis usaha ini sudah dari 2012 dengan berjualan di CFD (Car Free Day).

Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin NagihCreamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih Foto: Luthfi Baihaqy/detikcom

"Alasan jualan kue lumpur soalnya hobi bikin kue, ternyata kue lumpur yang banyak diminati dan laku banyak," jelasnya.

Kue lumpur tersebut dijual dengan harga Rp 5.000 per buah. Kue ini juga memiliki beberapa varian topping yang dapat dipilih oleh pelanggan, yaitu ada kismis, keju, dan kelapa.

Dalam sehari Verina mampu menjual hingga 550 buah kue lumpur saat hari biasa dan 800 buah kue lumpur saat akhir pekan. Verina mengaku menghabiskan kentang sebanyak 18-20 kg per harinya dan apabila akhir pekan bisa menghabiskan hingga 30 kg.

Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin NagihCreamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih Foto: Luthfi Baihaqy/detikcom

Lalu apa yang bikin kue lumpur buatan Verina berbeda dengan yang lain? Adonan kue lumpur memakai campuran kentang sehingga lembut. Selain itu proses masaknya diwolak-walik atau 'dibalik-balik'.

Pertama adonan kue lumpur dicetak dengan cetakan kue lumpur. Setelah kue matang diangkat dan dipanggang di atas lempengan besi yang dipanaskan di atas api. Kedua sisinya dipanggang hingga kecokelatan agak kering.

Permukaan kue lumpur wolak-walik jadi kering kecokelatan. Sementara kalau kue lumpur lain tetap kuning pucat dan agak basah. Saat digigit terasa renyah dan lumer bagian dalamnya ditambah aroma harum panggangan. Ini sebabnya kue lumpur ini tak bisa hanya dimakan satu saja. Pasti ketagihan!

Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin NagihCreamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih Foto: Luthfi Baihaqy/detikcom

"Kalau kue lumpur kita kata orang-orang lebih lembut karena di sini kita pakai lebih banyak kentangnya. Di wolak-walik ini kenapa? Soalnya kalau lumpur yang dulu kan harus ada arang di atasnya, kalau pakai arang ribet, jadi saya walik dan akhirnya jadi ciri khas, terus ini bisa tahan sampai 2 hari karena di walik ini kan jadi tanak, bisa dikirim ke luar kota juga, ke Jakarta juga sering," jelas Verina kepada detikcom.

Usaha Verina ini merupakan bisnis keluarga dan seluruh pegawainya adalah anggota keluarnya dari adik, kakak, hingga adik iparnya. Selain ada di Pasar Oro-Oro Dowo, saat ini usaha kue lumpur milik Verina sudah buka juga di Pasar Sawojajar, Malang.

Arman, salah satu pelanggan Kue Lumpur Wolak-Walik mengungkapkan sudah sering membeli kue lumpur di sini.

"Enaak pokoknya, istri juga suka, biasanya kalau ada acara sering pesan di sini," terangnya.

Creamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin NagihCreamy Wangi Kue Lumpur Wolak-Walik yang Bikin Nagih Foto: Luthfi Baihaqy/detikcom

Saat detikcom mampir ke kedai ini pukul 10.00 WIB, banyak pelanggan yang mengantre dan sudah ada 64 pesanan menanti.

"Iya harus pesan kalau mau dapat, biasanya orang-orang yang baru datang ke pasar langsung pesan, terus ditinggal belanja dulu gitu," ujar Verina.

Kedai mulai buka pada pukul 7 pagi dan menjual kue hingga habis. Biasanya kue lumpur ludes habis pada pukul 11 atau 12 siang.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com