Keamanan Pangan Pesan Makanan Online Menurut BPOM

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Rabu, 16 Sep 2020 12:30 WIB
Pesan makanan online Foto: Getty Images/Revolu7ion93
Jakarta -

Masa pandemi Covid-19 membuat konsumen lebih sering pesan makanan online. Nah, dalam proses persiapan hingga pengirimannya, pihak-pihak terkait perlu memperhatikan aspek keamanan pangan.

Pada Selasa (15/9), Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengadakan webinar bertajuk cara menciptakan ekosistem industri pangan yang aman pada jasa layanan antar daring (online). Hadir sebagai pembicara, Felippa Amanta selaku kepala peneliti di CIPS, Rosel Lavina selaku VP Corporate Affairs Gojek - Food Ecosystem, dan Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si. selaku Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baik Gojek dan BPOM dinilai memiliki peran besar dalam menjamin keamanan pangan di tengah jasa pesan makanan online yang kian marak. Apalagi data McKinsey tahun 2020 mengungkap 34% konsumen yang mereka survei lebih banyak memesan pengantaran makanan online sejak pandemi Covid-19.

Pesan makanan onlinePesan makanan online Foto: Getty Images/Revolu7ion93

Felippa juga menjelaskan soal pola konsumsi masyarakat yang berubah. Ia mengatakan semakin banyak konsumen, terutama populasi urban, membeli makanan dari jasa layanan pesan antar makanan online.

"Banyak sekali channel untuk membeli makanan secara daring seperti marketplace, aplikasi agregator makanan layaknya Gojek, atau aplikasi pengiriman pesan seperti WhatsApp. Pada PSBB Jakarta (sekarang) diprediksi juga akan mendorong penggunaan layanan ini," ungkap Felippa.

Ia juga menambahkan di Indonesia, industri jasa pesan antar makanan online diperkirakan tumbuh sebesar 11,5% setiap tahun antara 2020-2024. Sayangnya praktik pesan antar makanan ini belum dibarengi terjaminnya keamanan pangan yang diperjualbelikan.

Pesan makanan onlinePesan makanan online Foto: Getty Images/Revolu7ion93

Penelitian Ernawanti tahun 2018 melaporkan sekitar 35% makanan olahan kemasan yang dijual di sebuah situs marketplace, tidak memiliki izin atau label makanan yang diwajibkan. Proxy lainnya, terdapat 1 juta kasus diare di tahun 2018.

Lantas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas keamanan pangan di tengah jasa pesan makanan online? BPOM dan Gojek dalam hal ini angkat bicara. Chairun Nissa menjelaskan BPOM sebagai perwakilan dari pemerintah telah mengeluarkan regulasi.

Terdapat 5 kunci keamanan pangan dari BPOM yang selaras dengan panduan WHO. Kelimanya adalah menjaga kebersihan dan sanitasi; memisahkan daging, unggas, dan hidangan laut mentah dari makanan lain; masak dan memanaskan makanan dengan tepat; menyimpan makanan pada suhu yang aman; dan menggunakan air dan bahan mentah yang aman. Juga jangan konsumsi makanan yang lewat kedaluwarsa.

Pesan makanan onlinePesan makanan online Foto: Getty Images/Revolu7ion93

Terbaru BPOM mengeluarkan PerBPOM No. 8 Tahun 2020 tentang Pengawasan Obat dan Makanan yang Diedarkan Secara Daring. Ia menjelaskan, "Pelaku usaha wajib menjamin keamanan dan mutu pangan yang diedarkan secara daring." Selain itu, produk pangan olahan dalam kemasan eceran juga harus memiliki izin edar.

Namun Felippa menyoroti berbagai hal di dalam peraturan ini yang perlu dievaluasi supaya makin efektif. Pertama, soal pembentukan fasilitator keamanan pangan yang belum jelas implementasinya. Kedua, tambahan liabilitas belum dibahas secara teknis terutama perbedaan antara jasa antar oleh restoran secara langsung atau menggunakan pihak ketiga.

Ketiga, terkait penghapusan sanksi administratif berupa ganti rugi yang sebelumnya terdapat pada UU Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, Felippa berpendapat, terkadang konsumen mengalami kerugian secara ekonomis akibat pangan yang tidak aman.

Keempat, menurut Felippa peraturan ini masih minim sosialisasi dan konsultasi publik, dan ini dapat berakibat pada pelaksanaan dan implementasi yang kurang kuat.

Pesan makanan onlinePesan makanan online Foto: Getty Images/Revolu7ion93

Dalam webinar ini, Rosel Lavina dari Gojek yang merupakan pihak ketiga dalam jasa pesan makanan online juga memberi pemaparan. Dari sisi pengantaran, Gojek berupaya mengaplikasikan kampanye J3K yang diusungnya.

"Kampanye ini membantu memastikan ekosistem (pengantaran makanan) dari hulu ke hilir ini terjaga kehigienisannya," kata Rosel. Adapun J3K yang dimaksud adalah "Jaga Kesehatan, Kebersihan dan Keamanan."

Rosel menjelaskan sejak awal pandemi mereka juga sudah mengadakan online training di kalangan komunitas partner GoFood. "Materinya mengenai keamanan pangan dan Covid-19 itu sendiri," ujar Rosel.

Hal lain yang dilakukan adalah mendirikan 130 titik posko aman dimana para mitra Gojek selalu dicek sanitasi, suhu tubuh, dan dilakukan desinfeksi terhadap mereka. Lalu untuk menjaga kualitas makanan, Gojek memberikan kartu suhu tubuh, paket sanitasi untuk mitra GoFood, hingga segel pengaman makanan untuk para penjual GoFood dalam melayani pesan makanan online.



Simak Video "Kemenparekraf Bakal Benahi Kebersihan Jajanan Kaki Lima"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/odi)