Soto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960an

Faizal Amiruddin - detikFood Selasa, 08 Jun 2021 12:00 WIB
Soto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960an Foto: Faizal Amiruddin/detikcom
Pangandaran -

Pilihan kuliner ketika berwisata di Pangandaran tak hanya seafood. Pangandaran juga punya beberapa kuliner legendaris yang sayang dilewatkan, termasuk soto ayam Jarkomi!

Salah satu kuliner legendaris di Pangandaran adalah soto ayam Jarkomi. Racikan soto ini sudah akrab di lidah warga Pangandaran sejak 1960-an. Kelezatan soto ayam dengan resep Jawa ini sudah banyak diakui masyarakat. Selera orang boleh berbeda atau bersifat subjektif, tapi sebuah usaha kuliner bisa bertahan selama puluhan tahun adalah bukti cita rasanya mendapat tempat di lidah masyarakat.

"Jarkomi itu nama bapak saya," kata Komariah (52) penjual soto ayam Jarkomi di sekitar pusat kuliner Taman Pesona Pangandaran, Senin (7/6/2021).

Komariah adalah anak keenam dari delapan orang anak Jarkomi. Selain dia, ada dua saudaranya yang lain yang ikut berjualan soto. "Kalau siang ada 2 saudara saya jualan di sekitar pasar Pangandaran. Kalau malam saya disini, jadi total ada 3 yang jualan soto Jakomi, semua saudara," kata Komariah.

Soto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960anSoto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960an Foto: Faizal Amiruddin/detikcom

Komariah mengatakan bapaknya kini telah tiada. Pada tahun 2004 Jarkomi meninggal dunia. "Mendiang mewariskan resep soto kepada anaknya yang tertarik usaha kuliner. Saya sendiri mulai berjualan sejak tahun 1990-an," kata Komariah.

Dia mengatakan awalnya Jarkomi muda berjualan soto dengan berkeliling dengan cara dipikul. Kemudian beralih dengan gerobak. "Dulu bapak jualannya ke sekitar pantai dan pemukiman. Langganannya banyak," kata Komariah.

Dia tak tahu persisnya kapan Jarkomi muda berjualan. "Sejak saya lahir mendiang bapak sudah jualan soto. Jadi sudah lama sekali. Kalau resep buat soto, itu katanya resep keluarga," kata Komariah.

Soto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960anSoto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960an Foto: Faizal Amiruddin/detikcom

Secara penampilan, soto ayam Jarkomi terlihat mirip soto ayam Jawa kebanyakan. Potongan daging ayam, sedikit kecambah, sedikit bihun lalu diguyur kuah kaldu ayam yang gurih. Untuk urusan nasi tinggal pilih, mau dicampur atau dipisah. Harganya pun relatif murah, Rp 17.500 jika nasi dicampur dan Rp 20 ribu jika nasi dipisah.

Keistimewaan soto Jarkomi terasa ketika suapan pertama mendarat di lidah. Rasa gurih yang pas, langsung menyergap seisi mulut. Daging ayam terasa empuk digigit dengan tekstur khas ayam kampung. Tak ada amis dan tak ada lemak yang terasa. Kesegaran kecambah makin memperkaya rasa. Bila belum cukup segar, bisa ditambah kesegaran percikan air jeruk dan sambal.

"Kalau mau ekstra "tulang-taleng" ada, mau ceker mau kepala ada," kata Komariah. Semangkuk nasi yang disediakan, sukses menuntaskan rasa lapar.

Disela kesibukan melayani pembeli, Komariah tak sungkan berbagi resep rahasianya. Rupanya dia punya spesifikasi khusus untuk bahan ayam yang dimasaknya. Dia mengharuskan ayam yang dimasaknya adalah ayam kampung betina yang baru sekali bertelur.

Soto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960anSoto Ayam Jarkomi, Kuliner Pangandaran Legendaris Sejak 1960an Foto: Faizal Amiruddin/detikcom

"Ayam jantan kurang memberi rasa ke kuah, saya harus betina yang sudah sekali bertelur. Itu sangat berpengaruh kepada rasa kuah. Selain itu penting juga untuk keempukan daging. Kalau sudah beberapa kali bertelur, dagingnya alot," kata Komariah seraya mengatakan setiap hari dia butuh sekitar 12 ekor ayam.

Seorang konsumennya menyela, mengapa dia selalu gagal ketika mencoba membuat resep yang diberikan Komariah. "Itu karena ayam yang digodoknya sedikit. Kalau saya kan sekali godok 12 ekor, rasa kuah kaldunya pasti beda antara godokan 1 ekor dan 12 ekor," jawab Komariah.

Sebelum membuat kuah, Komariah juga mengatakan akan mengambil lemak dari daging ayam. Hal ini untuk menghindari lemak berlebih pada kuah sehingga menyebabkan bau atau rasa amis. "Lemaknya tak saya pakai. Saya bikin minyak lalu dijual ke pemancing ikan, sebotol laku Rp 20 ribu," kata Komariah.

Komariah mengaku bangga dengan resep soto ayam orang tuanya tersebut, selain menjadi sumber penghidupan banyak kebanggaan tersendiri yang dirasakannya. "Banyak wisatawan yang jadi langganan. Setiap ke Pangandaran pasti mampir ke sini. Atau sering juga ada orang luar kota yang sengaja datang karena istrinya ngidam," kata Komariah.

(adr/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com