Cara Mengolah Makanan yang Tak Tepat Bisa Picu Kontaminasi

Nabila Nufianty Putri - detikFood Jumat, 07 Sep 2018 09:36 WIB
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Biasanya agar makanan yang dikonsumsi sehari-hari bebas dari bakteri, sebelum diolah tersebut harus dicuci terlebih dahulu. Namun nyatanya kontaminasi pada makanan bisa terjadi pada saat disiapkan dan diolah.

Dosen Food Technology i3L (Indonesia International Institute for Life Sciences) dan PhD candidate Norwegian University of Life Sciences, Ervina, mengungkapkan kebersihan makanan harus tetap dijaga saat mengolahnya. Sebab, kontaminasi antar bahan makanan sebelum disajikan bisa saja terjadi dan menyebabkan seseorang keracunan.

Ervina merangkum tips mengindari kontaminasi pada makanan pada saat disiapkan dan diolah dari pembelajaran dan pelatihan secara lengkap mengenai keamanan pangan dan personal hygiene oleh Kampus I3L (Indonesia International Institute for Life Sciences) yang bekerja sama dengan I2C (Indonesia Institute of Culinary) pada Februari 2018 lalu. Berikut tipsnya.


Pisahkan makanan matang dan mentah

Jangan mencampur makanan yang sudah matang dengan makanan yang masih mentah. Contohnya meletakkan roti burger berdekatan dengan daging burger yang belum matang. Lalu pisahkan talenan pemotong serta pisau antara makanan segar dan yang masih mentah.

Saat menyimpan makanan beku, pisahkan juga makanan segar dan bahan mentah. Misalnya pisahkan tempat penyimpanan es krim dengan daging beku. Tujuannya agar makanan terhindar dari kontaminasi silang.

Simpan bahan makanan pada temperatur yang sesuai

Setelah dicuci dan diletakkan di tempat penyimpanan seperti food container, pastikan makanan disimpan pada temperatur yang tepat. Penyimpanan daging dan ikan segar adalah di bawah 5°C selama 3-5 hari. Penyimpanan daging dan makanan beku di bawah -10°C dapat disimpan selama 6 bulan. Penyimpanan buah dan sayuran segar 5°C-10°C tergantung dari jenis sayur dan buah.

Sementara untuk makanan yang telah matang, pastikan disimpan dengan tepat atau tidak berada di suhu danger zone terlalu lama. Danger zone merupakan suhu yang sangat nyaman bagi bakteri dan mikroorganisme lainnya untuk tumbuh dan berkembang.

Jika makanan disimpan pada suhu ini, dalam waktu kurang dari 4 jam saja terdapat jutaan bahkan puluhan juta bakteri yang telah berkembang biak dan mengontaminasi makanan. Danger zone berada pada kisaran 5°C - 60°C di atas 60°C dan di bawah 5°C adalah suhu aman.


Pastikan makanan dimasak dengan sempurna

Setiap makanan harus diolah secara sempurna. Artinya, dalam proses memasak harus dipastikan makanan tersebut benar-benar matang. Untuk makanan yang tidak dimasak seperti sayuran segar (salad atau keredok), cuci bersih sayuran dan dijaga suhu penyimpanannya agar tidak berada pada suhu danger zone. Jika makanan akan dimakan mentah seperti sushi dan sashimi, pastikan penanganannya harus tepat tanpa kontaminasi.

Terapkan personal hygiene ke koki dan pelayan restoran

Bagi para pelaku bisnis kuliner, cara mengolah makanan dengan tepat adalah hal yang penting. Maka sikap dan perilaku mengenai kebersihan mengenai personal hygiene harus diterapkan. Contoh-contoh personal hygiene yaitu mencuci tangan setiap kali ke luar dari toilet, menggunakan sarung tangan saat menyiapkan makanan matang, menutup rambut di area preparasi makanan, menggunakan pakaian yang rapi dan bersih, dan menutup mulut dengan menggunakan masker di area preparasi makanan.


Ervina juga menegaskan penting bagi para koki dan pelayan restoran untuk mengimplementasikan personal hygiene. Sebab, selain menentukan kualitas keamanan pangan, kegiatan ini juga meningkatkan kualitas restoran dan pelayanan.Bagi yang ingin membuka bisnis kuliner juga harus mendapatkan pengetahuan tentang menu engineering dan food costing.

Hadiri pelatihan dan seminar Restopreneur yang akan diadakan pada 13 September 2018 di kampus i3L (Indonesia International Institute for Life Sciences). Di kegiatan yang bekerja sama dengan i2C (Indonesia Institute of Culinary) ini, calon pebisnis kuliner bisa mendapatkan pengetahuan tentang teknik meramu menu menggunakan bahan-bahan makanan yang ada sehingga menghasilkan perpaduan menu yang efektif, efisien, murah, dan nikmat. (ega/odi)