Bolehkah Penderita Asam Lambung Konsumsi Gula?

Diah Afrilian - detikFood Minggu, 09 Jan 2022 06:00 WIB
Asian woman stomachache, feel pain for period conceptAsian woman stomachache, feel pain for period concept Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat
Jakarta -

Memiliki lambung yang sensitif membuat beberapa orang tak bisa mengonsumsi makanan secara bebas. Lantas apakah penderita asam lambung diperbolehkan konsumsi gula?

Sebagian orang memiliki kondisi lambung yang cukup sensitif. Seringkali alami lonjakan asam lambung membuat pola makan beberapa orang harus dijaga dengan ketat dan menghindari berbagai asupan pemicunya.

Ketika asam lambung sedang melonjak perlu diketahui bahwa akan ada gejala tidak nyaman yang akan dirasakan. Salah satu gejala yang disebabkan oleh tingginya asam lambung ini adalah rasa seperti dada terbakar.

Begi penderita gerd atau maag hal tersebut harus diperhatikan karena konsumsi asupan yang salah sedikit saja bisa memicu lonjakan asam lambung dengan begitu cepat. Makanan yang pedas dan asam menjadi kontributor paling tinggi yang mampu memicu asam lambung dengan begitu cepat.

Baca juga: Maria Vania Terlihat Ramping, Ini 5 Tips Dietnya yang Gampang Dicontek

human hand with white sugar packet and pouring in hot black coffee , in soft focusFoto: Getty Images/iStockphoto/Ratana21

Lantas bagaimana dengan makanan manis atau gula? Mengutip Oesophageal Patients Association, konsumsi gula dalam jumlah yang sangat kecil memiliki kemungkinan rendah untuk memicu lonjakan asam lambung. Terlebih ketika gula yang dikonsumsi berasal dari bahan pemanis alami seperti madu, selai murni hingga sirup yang terbuat dari bahan alami.

Sedangkan gula yang ditemukan pada makanan pemicunya atau dikombinasikan dengan makanan-makanan pemicu asam lambung mampu menyebabkan gejala asam lambung. Hal ini yang kemudian menjadi catatan para ahli gizi dan kesehatan bagi penderita asam lambung terlebih mereka yang sudah cukup kronis.

Beberapa makanan yang perlu diwaspadai konsumsinya adalah cokelat, peppermint, buah-buahan yang asam, makanan berlemak hingga minuman berkafein seperti kopi dan teh. Hal ini juga telah dijelaskan melalui berbagai penelitian yang dilakukan ahli.

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 silam, orang-orang yang memang memiliki keluhan asam lambung lebih mudah terpicu dibandingkan mereka yang kadar asam lambungnya lebih stabil. Bukan hanya melalui makanan, pola makan hingga berat badan ternyata juga memiliki pengaruh besar.

Baca juga: Kata Pebisnis Kopi Soal Tren Kopi Tahun 2022, Bakal Ada Kreasi Baru?

ilustrasi gulaFoto: thinkstock

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Clinical Gastroenterology dan Hepatology, beberapa pengamatan menunjukan bahwa penurunan berat badan berdampak pada penurunan gejala asam lambung. Hal ini yang menjadikan gula wajib diwaspadai dalam konsumsinya.

Gula diketahui sebagai salah satu bahan makanan, bumbu hingga perasa yang jika menumpuk di dalam tubuh akan memberikan risiko kenaikan berat badan yang cepat. Kenaikan berat badan yang secara tiba-tiba ini yang menjadi masalah yang cukup serius.

Menjaga berat badan yang stabil adalah cara terbaik yang disarankan oleh ahli untuk mencegah lonjakan dan gejala asam lambung kembali datang dengan waktu singkat. Maka konsumsi gula perlu dibatasi agar tak menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan lonjakan berat badan.

Menurut Dietary Guidelines for Americans, konsumsi gula tidak boleh melebihi 10% dari batas asupan kalori per hari. Jika disimpulkan, alasan konsumsi gula wajib dibatasi bagi penderita asam lambung adalah agar berat badan cenderung lebih stabil dan tidak memicu lonjakan asam lambung secara instan.

Baca juga: William Wongso Bicara Tren Kuliner Nusantara hingga Tantangan Promosinya



Simak Video "Proses Pembuatan Gula Aren Khas Kuta Ciamis"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com