×
Ad

Stevia vs Gula, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Atiqa Rana - detikFood
Kamis, 29 Okt 2026 15:00 WIB
Foto: Getty Images/Aneta_Gu
Jakarta -

Stevia dan gula sama-sama menjadi pemanis yang populer. Namun, mana yang lebih sehat?

Pilihan antara stevia dan gula pasir kerap membingungkan. Di satu sisi, sejumlah orang merasa masih memerlukan gula dalam makanan dan minuman sehari-hari sekalipun dapat berisiko.

Namun di sisi lain, banyak juga yang ragu dengan stevia sebagai pengganti gula lebih sehat.

Pada 2008, FDA atau Food and Drug Administration sebenarnya sudah menyetujui jika ekstrak stevia dengan kemurnian tinggi secara umum dianggap aman. Namun banyak orang mungkin belum familiar dan masih ragu menggunakan stevia karena faktor profil rasa kurang familiar, kekhawatiran efek samping pencernaan, serta isu transparansi produk dan campuran bahan dalam stevia di pasar saat ini.

Namun, jika dibandingkan antara gula dan stevia, sebenarnya mana yang lebih baik untuk kesehatan? Dilansir dari sunwayadditive.com (12/6), berikut penjelasannya.

1. Mengenal stevia dan gula

Stevia merupakan pemanis terbuat dari daun alami. Foto: Getty Images/Luis Echeverri Urrea

Stevia dan gula sama-sama membuat makanan dan minuman terasa manis. Namun, keduanya berasal dari bahan yang sangat berbeda.

Gula tergolong sukrosa, karbohidrat yang dibuat dari tebu atau akar bit gula (sugar beet). Gula biasa dan gula rafinasi mengandung 4 kalori per gramnya dan telah banyak digunakan sejak abad ke-19.

Sedangkan stevia asalnya dari daun tanaman Stevia rebuadiana, tanaman asli Amerika Selatan, khususnya Paraguay dan Brazil.

Senyawa aktifnya dinamakan glikosida steviol. Meski terbuat dari daun tanaman alami, stevia memiliki tingkat kemanisan 200-400 kali lebih tinggi dari gula pasir. Oleh karena itu, hanya perlu sedikit ekstrak atau tetes cair untuk mendapatkan rasa manis yang sama.

Esktrak stevia dalam makanan biasanya berupa glikosida steviol murni, bukan daun stevia utuh atau ekstrak kasar. FDA juga telah menyetujui stevia sebagai GRAS (Generally Recognized as Safe) hanya untuk ekstrak stevia dengan kandungan stevia murni setidaknya 95%.

Sedangkan daun stevia utuh dan ekstrak kasar tidak disetujui FDA untuk dikonsumsi karena kurangnya informasi keamanan dan potensi dampaknya pada kesehatan.

Banyak produk stevia komersial juga perlu diperhatikan. Pasalnya saat ini produk-produk stevia pasaran sering ditambah dengan bahan, seperti dekstrosa, eritritol, inulin, atau maltodekstrin untuk membantu pengukuran. Bahan ini bisa menambah sedikit karbohidrat dan memengaruhi rasa, kalori, serta tekstur.

2. Kandungan indeks glikemik, kalori, dan gula darah stevia vs gula

Gula pasir mengandung indeks glikemik tinggi dan kalori, berbeda dengan stevia. Foto: jcomp/Freepik

Kandungan indeks glikemik, kalori, dan efeknya terhadap gula darah penting untuk diperhatikan, terutama bagi mereka yang punya masalah berat badan, diabetes, dan gula darah tinggi.

Untuk pemanis, seperti gula, kandungan kalorinya 16 kalori per sendok teh dengan indeks glikemik senilai 65. Mengonsumsi gula pun dapat meningkatkan kadar gula darah.

Namun, stevia murni pada dasarnya mengandung nol kalori dengan indeks glikemik nol. Mengonsumsi stevia juga tidak akan meningkatkan kadar gula darah.

Gula dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin. Sementara stevia tidak meningkatkan kadar gula darah dan insulin.

Mengganti gula dengan stevia dapat mengurangi asupan kalori dan karbohidrat harian, mendukung penurunan berat badan, stabilitas gula darah, dan upaya menurunkan berat badan.



Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"


(aqr/adr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork