Stevia Populer Jadi Alternatif Gula Pasir, Benarkah Aman Dikonsumsi?

Stevia Populer Jadi Alternatif Gula Pasir, Benarkah Aman Dikonsumsi?

Beta Lukitasari Wijaya - detikFood
Kamis, 29 Okt 2026 10:56 WIB
Stevia
Foto: Getty Images/Luis Echeverri Urrea
Jakarta -

Stevia kerap dipilih sebagai pemanis nabati nol kalori pengganti gula pasir. Namun, seberapa aman stevia dikonsumsi setiap hari dan apa saja risikonya?

Stevia diperoleh dari daun tanaman Stevia rebaudiana yang telah dimanfaatkan masyarakat Amerika Selatan selama berabad-abad. Industri pangan mengolahnya menjadi pemanis bebas kalori dan bebas karbohidrat, yang biasanya diproduksi dalam kemasan sachet atau tetes.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui stevia sebagai bahan tambahan pangan pada 2008. Rasa manis stevia berasal dari glikosida steviol dengan tingkat kemanisan 200 hingga 400 kali gula pasir (sukrosa).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, takaran penggunaannya jauh lebih sedikit dibanding gula pasir. Dikutip dari Cleveland Clinic (28/6/2024), proses ekstraksi stevia mirip menyeduh teh: daun direndam air, disaring, lalu dikeringkan menjadi bubuk atau butiran.

FDA menetapkan stevia sebagai bahan yang secara umum diakui aman (GRAS), tetapi hanya untuk ekstrak dengan kemurnian 95 persen.

ADVERTISEMENT

Batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) baru tercapai bila seseorang mengonsumsi sekitar 27 bungkus stevia per hari.

"Stevia adalah pemanis bebas kalori favorit saya," ujar ahli gizi Natalie Crtalic, RD, LD. Menurutnya, stevia lebih alami dibandingkan pemanis rendah kalori olahan kimia seperti aspartam.

Crtalic mengingatkan konsumen agar membaca label. Sebab, tidak semua produk 100 persen stevia, karena sebagian dicampur pemanis kimia atau gula. "Anda harus selalu memastikan apa saja kandungan di dalamnya," katanya.

Studi 2017 menyebut stevia aman bagi penderita diabetes, obesitas, atau tekanan darah tinggi. Penelitian lain menunjukkan potensinya sebagai antioksidan dan antiperadangan.

Meski begitu, FDA belum menyetujui stevia sebagai pengobatan kondisi kesehatan apa pun. Daun mentah, ekstrak kasar di bawah 95 persen, dan suplemen stevia juga tidak disetujui FDA.

SteviaDalam takaran yang tepat, stevia aman dikonsumsi. Foto: Getty Images/Luis Echeverri Urrea

Di sisi lain, tinjauan 2022 menemukan hasil beragam soal dampak stevia pada mikrobioma usus.

Studi 2024 menyimpulkan stevia kecil kemungkinan merusak kesehatan usus selama 12 minggu penelitian, tapi efek samping seperti mual atau perut kembung tetap mungkin muncul.

Crtalic juga menyinggung kekhawatiran gangguan hormon dari studi 2016 yang masih diteliti.

Dalam penggunaannya untuk masak, stevia tidak bisa menggantikan gula dengan perbandingan 1:1 karena memengaruhi tekstur dan rasa.

"Stevia jauh lebih manis, jadi penggunaan dalam jumlah sedikit saja sudah cukup," kata Crtalic.

Meski begitu, penderita kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan stevia sebagai asupan harian.

Sebelumnya, stevia tengah ramai dibahas di Indonesia usai Samira Farahnaz, yang dikenal sebagai Dokter Detektif alias Doktif, membeberkan komposisi merek stevia populer.

Melalui Instagram @dokterdetektifreal (28/10/2026), Doktif mengklaim hasil pengujian laboratorium independen menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kandungan Beeru Stevia dengan informasi pada kemasannya.

Ia mempertanyakan klaim 'zero calorie' pada Beeru Stevia yang disebut cocok untuk orang yang sedang menjalani diet.

Sebab berdasarkan hasil uji laboratorium mandiri yang dibagikannya, produk tersebut diduga mengandung 188,84 kkal per 100 gram, dengan kadar karbohidrat mencapai 47,21%.

(adr/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads