Tren makan mentega dan margarin langsung ramai di media sosial. Ahli gizi ungkap risiko konsumsi berlebihan, mulai dari gangguan pencernaan hingga penyakit jantung.
Tren mengonsumsi mentega dan margarin secara langsung dalam jumlah banyak tengah ramai di media sosial. Aksi ini menarik perhatian karena keduanya merupakan bahan campuran makanan.
Padahal, mentega dan margarin mengandung lemak yang tinggi sehingga konsumsinya perlu dibatasi. Jika dimakan berlebihan sekaligus, keduanya dapat meningkatkan asupan kalori dan memicu gangguan pencernaan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat agar tidak asal mengikuti tren tersebut.
Dikutip dari ipb.ac.id (8/10) berikut faktanya.
1. Mentega dan Margarin Tinggi Kalori
Mentega dan margarin merupakan sumber lemak yang padat energi. Setiap 1 gram lemak menghasilkan sekitar 9 kalori sehingga konsumsi dalam jumlah banyak dapat meningkatkan asupan energi.
"Margarin adalah sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 kkal, sehingga mengonsumsinya dalam jumlah besar sekaligus dapat meningkatkan asupan energi dengan cepat," jelas Prof. Sri Anna.
Karena itu, masyarakat tidak disarankan mengonsumsi mentega atau margarin langsung dalam jumlah besar. Keduanya lebih baik digunakan secukupnya sebagai bahan makanan atau pelengkap hidangan.
2. Margarin Tidak Selalu Buruk
Margarin tidak bisa langsung dianggap sebagai makanan yang buruk bagi kesehatan. Komposisi asam lemak, jumlah konsumsi, dan pola makan secara keseluruhan perlu menjadi pertimbangan.
Margarin lunak berbahan minyak nabati umumnya mengandung lebih banyak lemak tak jenuh dibandingkan mentega. Sementara itu, mentega cenderung memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi.
Meski demikian, kandungan lemak trans juga perlu diperhatikan saat memilih produk margarin. Prof. Sri Anna menyarankan penggunaan margarin secukupnya, misalnya sebagai olesan roti atau untuk menumis sayuran.
(raf/adr)