Sudah mengurangi makan tapi berat badan malah naik? Spesialis gizi ini ungkap kebiasaan minum kopi yang diam-diam menambah ratusan kalori saat diet.
Kebiasaan minum kopi yang salah ternyata bisa menjadi salah satu penyebab berat badan naik, meski seseorang merasa sudah mengurangi porsi makan.
Kandungan gula dan berbagai topping dalam kopi terutama jenis kopi kekinian, dapat menyumbang kalori tambahan yang sering tidak disadari.
Spesialis gizi klinik dr. Diana Suganda melalui akun Instagram pribadinya, @dianasuganda (09/10/2026), menjelaskan bahwa banyak pasien mengeluhkan kenaikan berat badan meski merasa sudah menjaga pola makan.
Menurutnya, salah satu penyebab yang kerap terlewat adalah kalori dari minuman, terutama kopi susu manis yang dikonsumsi setiap hari.
Video ini juga merupakan bagian dari dr. Diana ketika memberikan edukasi terhadap pasiennya yang mengalami kenaikan berat badan 6,5 kg dalam 6 bulan, dan pasien ini terbiasa minum kopi manis 1-2 gelas per hari.
"Nah, tadi kamu ngomong ya, dengan (minum) kopi kamu merasa kenyang. Karena memang kopi ada efek untuk menekan nafsu makan," jelas dokter tersebut.
Kandungan kafein dalam kopi memang dapat memberikan efek sementara terhadap metabolisme dan sedikit memengaruhi rasa lapar pada sebagian orang. Namun, bukan berarti konsumsi kopi berlebihan bisa mempercepat penurunan berat badan.
Apalagi jika kopi ditambahkan gula, sirop, krimer, atau berbagai topping manis. Bahan tambahan tersebut dapat meningkatkan jumlah kalori dalam satu gelas kopi.
Bahkan dr. Diana memperkirakan bahwa dalam satu gelas kopi susu kekinian yang rasanya manis terdapat sekitar 200-300 kalori.
"Rasa kenyang muncul setelah minum kopi, apalagi kopimu manis. Manis kan memberikan energi juga dari gula, tapi setelah itu karena kamu tidak dapat (asupan) protein, akhirnya kamu nyari lagi (makanan) yang macam-macam," ungkap dr. Diana.
Akibatnya, seseorang akan terjebak dalam siklus mencari camilan terus-menerus karena perut tidak pernah merasa terpuaskan.
"Nggak kelar-kelar jadinya. Habis ngopi nyari ini, nyari (makanan) itu, manis lagi," tegas sang dokter.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa minuman kopi kekinian merupakan penyumbang kalori terbesar yang luput dari perhatian. Apabila dikonsumsi dua kali sehari, tumpukan kalori cair ini menjadi sangat masif.
"Jadi ketambahan 200-400 kalori dari cairan doang. Habis itu baru makan yang lain-lain. Jadi tidak heran kalau berat badannya naik lumayan banyak," tambahnya.
Meskipun begitu, ngopi tetap diperbolehkan asalkan asupan pemanisnya dikurangi. Kunci utamanya adalah mengimbanginya dengan pola makan yang tepat dan sehat.
"Nah, jadi yang harus penuh apa? Yang harus cukup? Ya, asupan proteinnya harus dipenuhi," pungkas dr. Diana.
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
(sob/sob)