7 Makanan yang Bisa Memengaruhi Hormon Estrogen, Ada Tahu hingga Susu

7 Makanan yang Bisa Memengaruhi Hormon Estrogen, Ada Tahu hingga Susu

Riska Fitria - detikFood
Jumat, 03 Jul 2026 05:00 WIB
Kacang kedelai
Foto: Getty Images/iStockphoto/naito8
Jakarta -

Makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari ternyata bisa memengaruhi hormon estrogen. Ketahui jenisnya dan dampaknya bagi kesehatan tubuh.

Hormon estrogen berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti mengatur siklus menstruasi pada perempuan hingga bantu jaga kepadatan tulang. Kadarnya dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan sehari-hari.

Beberapa makanan mengandung senyawa alami yang dapat memengaruhi aktivitas estrogen. Ada pula makanan yang berpotensi membawa zat pengganggu keseimbangan hormon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, bukan berarti semua makanan tersebut harus dihindari. Memahami kandungan dan cara mengonsumsinya dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Dikutip dari Health.com (12/1) berikut makanan yang memengaruhi hormon estrogen:

1. Olahan Kacang Kedelai

Olahan kedelai seperti tahu, tempe, dan susu kedelai dikenal sebagai makanan bergizi. Namun, kandungan isoflavon di dalamnya kerap memicu perdebatan soal pengaruhnya terhadap hormon.

ADVERTISEMENT

Isoflavon merupakan senyawa alami dari tumbuhan yang memiliki struktur mirip estrogen. Karena itu, banyak orang khawatir konsumsi kedelai dapat mengganggu keseimbangan hormon.

Sejumlah penelitian memang menyoroti potensi efek hormonal dari isoflavon. Namun, riset lain menunjukkan makanan berbahan kedelai umumnya aman, bahkan dapat memberi manfaat bagi wanita menopause dan penyintas kanker payudara.

2. Biji Rami

Biji ramiBiji rami Foto: iStock

Biji rami atau flaxseed dikenal kaya serat dan nutrisi. Bahan pangan ini juga mengandung lignan, senyawa alami yang dapat memengaruhi kadar estrogen dalam tubuh.

Lignan bekerja mirip fitoestrogen dan dinilai lebih banyak memberi manfaat. Beberapa studi menunjukkan senyawa ini berpotensi membantu terapi kanker payudara pada wanita pascamenopause.

Meski begitu, bukti ilmiahnya masih terus diteliti. Jika memiliki endometriosis atau kanker payudara, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum rutin mengonsumsi flaxseed.


3. Daging dan Produk Susu
5 Produk Olahan Susu Ini Cocok Dikonsumsi saat DietSusu ilustrasi. Foto: Getty Images/alvarez

Susu, keju, yogurt, dan daging ternyata mengandung estrogen alami. Hormon ini berasal dari hewan dan ikut masuk ke tubuh melalui makanan yang dikonsumsi.

Sebagian besar estrogen dari pangan hewani berasal dari susu dan produk olahannya. Sementara itu, daging babi hutan dan lemak angsa dilaporkan memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi dibanding beberapa jenis daging lain.

Meski demikian, tak perlu langsung menghindari susu atau daging. Pola makan kaya sayuran, buah, dan biji-bijian dengan konsumsi daging serta produk susu secukupnya tetap dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung.

4. Minuman Beralkohol

Minuman beralkohol seperti bir dan wine mengandung senyawa yang dapat memengaruhi hormon. Efeknya bergantung pada jumlah serta frekuensi konsumsi.

Sejumlah penelitian menunjukkan alkohol dapat meningkatkan kadar estradiol. Estradiol merupakan salah satu bentuk hormon estrogen yang berperan dalam sistem reproduksi.

Konsumsi alkohol dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan perubahan hormon pada pria. Kondisi ini berpotensi meningkatkan estrogen sekaligus menurunkan kadar testosteron dan progesteron.

5. Makanan Olahan

Selain memerhatikan jenis sosis, penting juga untuk melihat tanggal kedaluwarsa di kemasan.Ilustrasi sosis. Foto: Getty Images/iStockphoto/sergeyryzhov

Makanan olahan tak hanya tinggi gula, garam, atau lemak. Beberapa juga berisiko terpapar zat kimia dari kemasan yang dapat memengaruhi kerja hormon.

Salah satunya adalah ftalat yang banyak ditemukan pada plastik pembungkus makanan. Paparan panas dan penyimpanan terlalu lama dalam wadah plastik dapat meningkatkan perpindahan zat ini ke makanan.

Selain ftalat, pengawet seperti paraben dan beberapa pewarna juga menjadi perhatian. Sejumlah penelitian menunjukkan zat tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas hormon estrogen dalam tubuh.

Halaman 2 dari 3
(raf/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads