Susu dan produk olahannya (dairy) begitu populer di dunia. Lantas, seperti apa efek konsumsi produk susu setiap hari untuk kesehatan jantung? Apakah bermanfaat atau justru berbahaya?
Sebuah studi besar meneliti hubungan antara konsumsi produk susu dengan kesehatan jantung. Studi ini melibatkan lebih dari 460.000 orang dewasa di China berusia 30-79 tahun yang dipantau kebiasaan makan dan kondisi kesehatannya dalam jangka waktu panjang.
Dilansir dari Eating Well (06/02), para ilmuwan menggunakan data dari China Kadoorie Biobank, sebuah studi kohort jangka panjang yang memantau kebiasaan hidup & kesehatan ribuan peserta selama bertahun-tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka mengelompokkan peserta berdasarkan frekuensi konsumsi produk olahan susu, mulai dari yang tidak pernah hingga yang rutin mengonsumsinya selama 4 kali atau lebih dalam seminggu.
Ilustrasi wanita minum susu. Foto: Getty Images/yipengge |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi produk olahan susu memiliki risiko terkena sejumlah penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, stroke hemoragik, dan kematian akibat penyakit jantung lebih rendah.
Temuan ini menarik karena selama ini konsumsi produk susu kerap dianggap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung akibat kandungan lemaknya.
Selain itu, konsumsi produk susu juga dikaitkan dengan penurunan indeks massa tubuh (BMI) dan tekanan darah yang lebih baik. Peneliti menyatakan bahwa kedua faktor tersebut merupakan penanda risiko penyakit jantung, sehingga perbaikan keduanya bisa berkontribusi pada dampak positif susu terhadap kesehatan kardiovaskular.
Ilustrasi susu. Foto: Getty Images/ddukang |
Studi yang sama mencatat bahwa konsumsi susu sekitar 4 porsi atau lebih per minggu justru dapat meningkatkan sekitar 11% risiko penyakit jantung iskemik atau penyempitan pembuluh darah. Hal ini menunjukkan bahwa terlalu banyak juga tidak selalu lebih baik.
Para peneliti pun menekankan beberapa keterbatasan studi ini. Data konsumsi produk susu dikumpulkan berdasarkan ingatan responden, sehingga ada kemungkinan bias.
Selain itu, terdapat faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian ini jika diterapkan pada kondisi berbeda. Misalnya, perbedaan profil kesehatan individu, jenis produk susu, hingga kebiasaan makan setempat yang tetap penting.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk sepenuhnya memahami hubungan ini. Meskipun demikian, studi ini menambah bukti yang berkembang bahwa menikmati produk susu dapat menjadi elemen positif bagi kesehatan kardiometabolik jika dikonsumsi dengan bijak.
(raf/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN