Ahli Gizi Ini Sebut Label 'Superfood' Sia-sia, Apa Maksudnya?

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Rabu, 19 Des 2018 11:00 WIB
Foto: Independent
Jakarta - Salmon, kale dan alpukat sering dilabeli superfood. Meski begitu, ahli gizi ini menilai label superfood pada makanan adalah hal sia-sia.

Istilah 'superfood' sering disematkan pada bahan makanan yang dianggap punya nutrisi hebat alias super. Dengan pelabelan superfood, tak jarang sebuah bahan makanan juga dijual lebih mahal.

Ahli gizi dan profesor ilmu kesehatan masyarakat di Universitas New York, Dr. Marion Nestle rupanya tak setuju dengan label superfood. Ia menganggap hal itu sia-sia karena merupakan konsep pemasaran saja.

Dalam buku terbarunya, "Unsavory Truth," Dr. Nestle mengungkap cara-cara industri makanan mensponsori sebuah penelitian untuk produk mereka. Mulai dari produk olahan susu hingga minuman soda. Ia juga menyoroti fenomena khusus yaitu saat industri makanan membiayai penelitian makanan sehat non-olahan seperti kenari, pir, atau alpukat.

Ahli Gizi Ini Sebut Label 'Superfood' Sia-sia, Apa Maksudnya?Ragam kacang-kacangan sering dilabeli superfood (Foto: iStock)

Baca Juga: Ini 5 Superfood Paling Populer Untuk Jaga Kesehatan Jantung

"Ketik 'keharusan' pemasaran sedang bekerja, penjual ingin peneliti mengklaim produk mereka 'superfood,' istilah yang tidak bermakna nutrisi," tulis Dr. Nestle. Ia memperhatikan penelitian gizi yang didanai industri makanan mulai marak tahun 2015 di Amerika.

Di penghujung tahun tersebut, Dr. Nestle mengklaim ada 168 penelitian terkait gizi yang didanai industri makanan. Dan 156 diantaranya memiliki hasil yang disukai para penyandang dana.

"Salah satu hal yang saya perhatikan adalah bahwa ada (studi tentang) semua makanan yang terbukti sehat. Mengapa Anda perlu melakukan penelitian guna membuktikan blueberry atau raspberry sehat? Tentu saja buah-buahan itu sehat. Jadi satu-satunya alasan mereka mau melakukan penelitian lagi adalah untuk meningkatkan pangsa pasar," jelas Dr. Nestle.

Alasan lain industri makanan ingin membuat produknya terlihat begitu bermanfaat. Sebuah penelitian, misalnya, mungkin melihat efek konsumsi satu jenis makanan saja tetapi tidak membandingkannya dengan placebo atau makanan lain. Padahal prinspnya jika makanan tak diuji terhadap sesuatu, tidak bisa dilabeli kata "manfaat" dalam konteks lebih luas.

Ahli Gizi Ini Sebut Label 'Superfood' Sia-sia, Apa Maksudnya?Meski sudah jelas sehat, blueberry masih saja diteliti demi kepentingan pemasaran produk (Foto: iStock)

Baca Juga: Nggak Perlu Beli yang Mahal, Superfood di Dapur Ini Juga Punya Banyak Manfaat

Baginya tidak ada satu jenis makanan yang berperan tunggal dalam membuat seseorang sehat. Pola makan keseluruhanlah yang paling penting. Dr. Nestle merekomendasikan makan banyak makanan berbasis nabati seperti ragam buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Ia melanjutkan, "Untuk mempertanyakan apakah satu jenis makanan memiliki manfaat kesehatan khusus adalah hal yang menentang akal sehat. Kita tidak hanya makan satu jenis makanan. Kita makan banyak makanan dalam kombinasi berbeda dari hari ke hari."

Secara keseluruhan, Dr. Nestle kembali mengingatkan bahwa anjuran gizi tidak banyak berubah dari dulu. "Prinsip dasar dari makan sehat adalah konsumsi beragam makanan non-olahan dalam jumlah yang wajar," pungkasnya.


Ahli Gizi Ini Sebut Label 'Superfood' Sia-sia, Apa Maksudnya?
(adr/odi)