Di Yunani Popularitas Diet Mediterania Turun 70% Akibat Makanan Cepat Saji

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Selasa, 12 Jul 2016 12:05 WIB
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Diet Mediterania terkenal menyehatkan karena tinggi asupan buah dan lemak sehat. Tapi kini popularitasnya menurun akibat munculnya banyak gerai fast food.

Dilansir dari Daily Mail (11/7), para pakar global mengatakan diet Mediterania mulai ditinggalkan di negara-negara yang dulunya menjadikan diet ini cara hidup seperti di Yunani dan Spanyol. Mereka 'menyalahkan' pertumbuhan industri makanan cepat saji dan pariwisata yang besar di sana.

Lluis Serra-Majem selaku Kepala International Foundation of Mediterranean Diet, mengatakan popularitas diet Mediterania turun hingga 70% di Yunani dan 50% di Spanyol selama 30 tahun terakhir. Para pakar khawatir penurunan yang tajam ini tidak bisa diubah.


Diet Mediterania tinggi asupan makanan yang mengandung zat tepung seperti roti dan pasta. Juga buah dan sayur, minyak zaitun, red wine, beberapa jenis ikan, dan sedikit jumlah daging. Pola makan ini dianut masyarakat di negara-negara yang berbatasan dengan laut Mediterania.

Tahun 2010, diet Mediterania dimasukkan dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di 7 negara yaitu Kroasia, Cyprus, Yunani, Italia, Maroko, Spanyol, dan Portugal. Diet ini juga dipuji PBB karena mempromosikan keramahtamahan, kehidupan bertetangga, dan dialog serta kreativitas antar budaya.

Namun para pakar kini mencari cara menghidupkan kembali diet Mediterania sehingga lebih menarik bagi remaja. Mereka diajak untuk membeli makanan segar yang kadang lebih mahal saat periode krisis ekonomi.

Di Spanyol, aktris seperti Penelope Cruz pernah menambahkan sentuhan berbeda pada masakan Mediterania tetapi hanya sedikit orang yang tertarik. Kurang dari 15% penduduk Spanyol masih menjalani diet Mediterania, sementara 50-60% hanya menjalaninya kadang-kadang. Serra-Majem melaporkan sekitar 20-30% warga Spanyol sudah benar-benar meninggalkan diet Mediterania.


"Penurunan ini disebabkan banyak hal. Kami menjadi saksi mata globalisasi pola makan dengan menyebarnya 'Western diet' yang muncul karena pertumbuhan pariwisata. Pertumbuhan yang tidak terkontrol ini menyebabkan tingginya urbanisasi dan meningkatnya konsumsi daging, tepung olahan, serta menurunnya diet tradisional," ujar Serra-Majem.

Penurunan popularitas diet Mediterania paling banyak terlihat di daerah pesisir, terutama di Spanyol dan pantai Adriatik Italia. Sementara di Yunani, Antonia Trichopoulou dari Yayasan Kesehatan Hellenic mengatakan generasi muda sekarang lebih tertarik pada makanan cepat saji.

Para ahli khawatir pergesaran pola konsumsi ke makanan cepat saji berkontribusi pada peningkatan obesitas, kanker, penyakit jantung, dan diabetes pada populasi yang sebelumnya dikenal berumur panjang. Trichopoulou menginformasikan 7 dari 10 orang dewasa Yunani sekarang kelebihan berat badan atau obesitas. Sementara sekitar 11% penduduk Yunani mengidap diabetes.

Serra-Majem mengatakan kombinasi diet Mediterania dengan aktivitas fisik bisa mencegah kasus diabetes. Selain sebabkan kerugian kesehatan, penurunan diet sehat ini juga berdampak buruk bagi lingkungan. "Hampir 25% emisi gas rumah kaca dihasilkan dari produksi makanan," ujar Serra-Majem.


Para pakar juga khawatir penurunan popularitas diet Mediterania sebabkan kelangkaan pada kemampuan dan tradisi lokal. Termasuk pemanenan, perikanan, peternakan binatang, dan konservasi.

Trichopoulou menambahkan saat ini mereka yang menjalani diet Mediterania adalah orang-orang dengan berpendidikan dan berada pada kelas sosial tinggi di Yunani. "Ini lebih terkait masalah sosial dan pendidikan daripada uang karena buah dan sayur relatif murah," tuturnya.

Pakar independen, Florence Egal mengatakan mempromosikan industri pariwisata yang berkelanjutan dan meningkatkan produksi pangan lokal bisa jadi solusi menghidupkan kembali popularitas diet Mediterania.

(adr/odi)