Di balik kelezatan soto Lamongan, ada kisah perantau yang akhirnya sukses mempopulerkan racikan soto tersebut ke kota besar. Begini perjalanannya.
Soto menjadi salah satu kuliner khas Indonesia yang punya banyak variasi di setiap daerah. Salah satu yang paling terkenal, Soto Lamongan yang terkenal dengan kuah kuning dan taburan koya gurih.
Kuliner asal Jawa Timur ini tak hanya populer di daerah asalnya, tetapi juga merambah berbagai kota di Indonesia. Kehadirannya di Jakarta turut dipopulerkan para perantau yang membuka usaha soto kaki lima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik kepopulerannya, Soto Lamongan punya sejarah dan keunikan tersendiri. Mulai dari asal-usul soto, peran paguyuban ribuan pedagang, hingga koya yang menjadi ciri khasnya.
Dikutip dari Lamongankab.go.id (22/2/24) berikut fakta menarik soal Soto Lamongan:
1. Asal-usul Soto di Nusantara
Soto Lamongan dikenal dengan kuahnya yang kuning dan bening. Foto: Taste Atlas |
Indonesia memiliki beragam jenis soto dengan ciri khas masing-masing. Menurut Gardjito, pakar pangan dari Universitas Gadjah Mada, ada sekitar 75 varian soto di Nusantara.
Dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, sejarawan Denys Lombard menyebut soto memiliki kaitan dengan masakan peranakan Tionghoa bernama caudo atau jaoto.
Hidangan ini awalnya menggunakan jeroan dan kuah rempah, serta dikenal sebagai makanan rakyat.
Seiring waktu, soto berkembang dengan bahan dan racikan bumbu yang berbeda di setiap daerah. Salah satunya Soto Lamongan yang populer dengan kuah kuning dan taburan koya.
2. Soto Ayam Berkembang di Lamongan
Sejarah awal Soto Lamongan tidak tercatat secara pasti dalam dokumen tertulis. Namun, kuliner ini berkembang melalui tradisi memasak dan berdagang masyarakat setempat.
Soto Lamongan dikenal sebagai sajian berkuah kuning dengan isian ayam dan racikan rempah. Penggunaan daging ayam berkembang karena bahan tersebut lebih mudah diperoleh.
Popularitas soto juga merambah lingkungan istana pada masa Presiden Soekarno. Resep soto tercatat dalam buku masakan Indonesia berjudul Mustikarasa yang menghimpun beragam hidangan Nusantara.
3. Populer Berkat Perantau
Soto Lamongan populer berkat perantau. Foto: Google Review |
Soto Lamongan semakin dikenal luas pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, banyak warga Lamongan merantau dan membuka usaha soto di berbagai kota.
Salah satu pelopornya adalah Pak Askari dari Desa Siman, Kecamatan Sekaran, yang berjualan soto pikulan di Jakarta.
Pada 1963, Pak Jali Suprapto membuka Warung Soto Ayam Jaya Agung di Jakarta Pusat. Warung yang juga menjual sate kambing itu masih bertahan hingga kini.
4. Paguyuban Soto Lamongan Punya 5.000 Anggota
Soto Lamongan dan pecel lele menjadi kuliner kaki lima yang populer di Jakarta. Kepopulerannya tak lepas dari peran para perantau asal Lamongan, Jawa Timur, yang merintis usaha makanan di ibu kota.
Kondisi daerah yang sulit, seperti kekeringan saat kemarau dan banjir ketika musim hujan, mendorong banyak warga Lamongan merantau. Mereka kemudian mengandalkan usaha soto dan pecel lele untuk mencari penghidupan.
Pada 1970-an, para perantau membentuk Paguyuban Putra Asli Lamongan (Pualam). Menurut Soen'an Hadi Purnomo, ketua Pualam, jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 5.000 pedagang soto Lamongan dan pecel lele.
5. Ciri Khas Soto Lamongan
Soto Lamongan Foto: Riska Fitria/detikfood |
Salah satu pembeda Soto Lamongan dari banyak jenis soto lainnya adalah koya. Bubuk gurih ini umumnya dibuat dari kerupuk udang dan bawang putih goreng yang dihaluskan.
Koya ditaburkan di atas soto sesaat sebelum disajikan. Campurannya membuat kuah terasa lebih gurih dan teksturnya lebih pekat.
Menariknya, koya juga disebut sebagai bentuk kreativitas dalam memanfaatkan bahan sederhana. Remahan kerupuk udang dapat diolah menjadi pelengkap yang memperkaya rasa soto.
Simak Video "Potensi Besar Kuliner Indonesia Masuk Pasar Internasional "
[Gambas:Video 20detik] (raf/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN