Harga bahan bakar melonjak akibat perang Iran. Toko roti (bakery) di Prancis pun kewalahan membayar biaya memanggang baguette dan pastry.
Kenaikan harga bahan bakar setelah perang Iran membuat pelaku usaha kecil di Eropa ikut terdampak.
Di Prancis, sejumlah toko roti harus menghadapi biaya operasional yang semakin tinggi karena oven untuk memanggang baguette dan pastry membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya dialami pasangan Kevin dan Sandrine Luce yang menjalankan toko roti di Saint-Just-en-Chaussée, kota kecil sekitar 90 kilometer sebelah utara Paris.
Setiap pagi, saat hari masih gelap, mereka sudah menyalakan oven hingga mencapai suhu 270 derajat Celcius untuk memanggang baguette agar menghasilkan kulit yang renyah.
Baker Kevin Luce membuat aneka pastry di Saint-Just-en-Chaussée, Prancis. Foto: AP Photo/John Leicester |
Dikutip dri New York Post (27/9), saat pertama kali menyalakan oven tersebut pada Maret, pasangan ini membayar sekitar Rp45 juta untuk membeli 2.000 liter bahan bakar minyak.
Namun, pekan lalu mereka harus mengeluarkan uang hampir sama banyak, tetapi hanya mendapatkan sekitar 1.200 liter.
Kenaikan harga bahan bakar yang terjadi sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari membuat penggunaan oven berbahan bakar minyak yang sebelumnya dianggap lebih ekonomis menjadi semakin mahal.
"Awalnya ini adalah pilihan yang bagus karena oven berbahan bakar minyak lebih ekonomis dibandingkan oven listrik. Sampai akhirnya harga bahan bakar naik 50 persen. Jadi, sekarang ini bukan lagi pilihan yang bagus," ujar Kevin Luce seperti dikutip dari Associated Press.
Kondisi serupa dirasakan banyak pemilik toko roti lainnya. Federasi Nasional Toko Roti dan Patiseri Prancis mencatat ada lebih dari 34.000 pembuat roti di negara tersebut yang menghasilkan sekitar 6 miliar baguette setiap tahun.
Sekitar seperempat di antaranya masih menggunakan oven berbahan bakar minyak atau gas.
Roti Baguette Prancis ilustrasi. Foto: Getty Images |
Bagi Kevin, kenaikan biaya energi bukan sekadar persoalan tagihan. Uang yang seharusnya menjadi keuntungan usaha justru habis untuk membayar energi.
Dengan begitu ruang untuk menaikkan gaji karyawan maupun melakukan investasi menjadi semakin terbatas.
Dampak kenaikan harga energi juga terasa lebih kuat di wilayah pedesaan Prancis.
Sekitar 21 juta orang atau sepertiga populasi Prancis tinggal di kawasan pedesaan yang sebagian besar bergantung pada kendaraan pribadi karena akses transportasi umum lebih terbatas.
Bukan hanya toko roti, pelaku usaha makanan yang menggunakan kendaraan untuk berjualan juga harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Martial Realland, misalnya, menjual pancake gurih isi ham dan keju, kentang goreng, serta makanan ringan menggunakan food truck yang berkeliling dari satu desa ke desa lain di wilayah l'Oise.
Ia mengatakan biaya untuk mengisi penuh tangki diesel food truck kini mencapai sekitar Rp4 juta. Sebelum perang Iran, biaya yang sama hanya sekitar Rp2,4 juta.
Pemerintah Prancis telah menyiapkan paket bantuan sekitar sekitar Rp9,16 triliun untuk membantu masyarakat dan industri yang terdampak lonjakan harga bahan bakar.
Bantuan tersebut mencakup subsidi bagi pekerja yang menempuh perjalanan sedikitnya 15 kilometer ke tempat kerja serta bantuan tagihan energi musim dingin bagi sekitar 5,8 juta keluarga.
Namun, bagi usaha kecil seperti toko roti dan food truck, kenaikan biaya energi tetap menjadi tantangan besar karena bahan bakar merupakan bagian penting dari operasional sehari-hari.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN