Seorang mantan teknisi memilih pulang kampung dan membangun kebun cabai berisi 10.000 polybag. Keputusannya kini menginspirasi banyak orang.
Di tengah tren anak muda kembali melirik dunia pertanian, banyak kisah inspiratif bermunculan dari berbagai negara. Berbekal keberanian, mereka memilih meninggalkan pekerjaan lama demi mengejar impian.
Pertanian modern kini juga semakin berkembang berkat teknologi dan sistem budidaya yang lebih efisien. Cara ini membuat hasil panen lebih stabil sekaligus membuka peluang usaha yang menjanjikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dilansir dari Says (31/7/2026), seorang mantan teknisi di Malaysia menjadi salah satu sosok yang membuktikan hal tersebut. Ia memutuskan kembali ke kampung halaman untuk membangun usaha pertanian cabai berskala besar.
Seorang mantan teknisi nekat memutuskan alih profesi menjadi petani cabai. Foto: Bernama.com |
Ia mengembangkan kebun cabai menggunakan sistem fertigasi yang dikenal lebih hemat air. Nutrisi tanaman disalurkan langsung melalui irigasi sehingga pertumbuhan lebih optimal.
Awalnya usaha tersebut dimulai dari skala kecil untuk mempelajari teknik budidaya. Seiring bertambahnya pengalaman, kapasitas kebun terus diperbesar sedikit demi sedikit.
Kini jumlah tanaman cabainya telah mencapai sekitar 10.000 polybag. Skala tersebut membuat hasil panennya meningkat jauh dibanding saat baru memulai.
"Bersyukur, kini saya bisa memanen satu ton cabai setiap bulannya, yang mana bisa membantu pasokan ke supermarket lokal," ujar Yusuf Jamal Khair selaku petani cabai.
Kini ia sukses dan berhasil panen hingga 1 ton cabai. Foto: Bernama.com |
Ia mengaku lebih menikmati aktivitas bekerja di lahan pertanian. Meski lebih melelahkan, kepuasan yang diperoleh terasa jauh lebih besar.
Keberhasilannya juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Kehadiran tenaga tambahan membantu operasional kebun berjalan lancar.
Ia menilai anggapan bahwa bertani identik dengan pekerjaan berat sudah mulai berubah. Teknologi membuat proses budidaya menjadi lebih praktis dan efisien.
Selain itu, kebutuhan cabai yang terus tinggi membuat peluang usaha tetap terbuka. Produksi lokal masih dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pasar.
Ditambah perhatian pemerintah Malaysia yang kini menyadar kepada para petani lokal dinilai sangat membantu. Menurut pengakuan Yusuf, ia bahkan sudah menerima pinjaman modal hingga 80.000 Ringgit atau setara dengan Rp351 juta.
(dfl/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN