×
Ad

5 Hidangan Khas yang Selalu Hadir dalam Tradisi Masyarakat Cirebon

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Minggu, 19 Jul 2026 11:30 WIB
Foto: Getty Images/Kadek Bonit Permadi
Jakarta -

Tradisi masyarakat di Cirebon masih hidup dan terus diwariskan hingga kini. Hal ini terlihat dari sejumlah upacara dan ritual keagamaan yang masih dijalankan dengan penyajian beberapa hidangan jadi ciri khasnya.

Buku berjudul 'Bukan Sunda Bukan Jawa' karya pakar gastronomi Murdjiati-Gardjito, Mulya Sari Hadiati, dan Aulia Safrina mengungkap tuntas soal makanan dan budaya makan di wilayah Pantura, meliputi Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal.

Kawasan tersebut berada di wilayah pertemuan budaya Sunda dan Jawa yang akhirnya melahirkan beragam hidangan dengan cita rasa khas. Tak hanya itu, tradisi di wilayah Pantura juga masih lekat dengan penyajian makanan tertentu.

Di Cirebon, misalnya, tradisi daur hidup masyarakat dimulai sejak dalam kandungan hingga kematian. Beberapa upacaranya menghadirkan makanan khas, seperti berikut:

1. Memitu

Masyarakat Cirebon mengenal tradisi memitu atau ritual tujuh bulanan untuk mendoakan janin yang dikandung seorang ibu. Selain pembacaan ayat suci Alquran, memitu juga menghadirkan berbagai hidangan.

Ada nasi wuduk, juadah pasar, rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih, aneka buah dan umbi, serta tebu wulung.

2. Nglolosi

Bubur lolos khas Cirebon. Foto: Cookpad/Tri Rahayu Imansyah

Setelah tujuh bulanan, ada ritual terakhir kehamilan bernama nglolosi. Sesuai namanya yakni 'lolos' atau 'lancar', ritual ini dilakukan saat usia kehamilan mencapai sembilan bulan.

Ada hidangan bubur lolos yang teksturnya licin. Hal ini menjadi perlambang proses kelahiran yang lancar. Bubur lolos sendiri merupakan penganan sejenis juadah licin yang dibagikan kepada tetangga seusai pengajian.

3. Mudun Lemah

Ketika bayi berusia tujuh bulan, biasanya ada ritual mudun lemah atau berarti turun tanah. Ritual ini menandakan perkenalan pertama anak dengan tanah atau bumi.

Hidangan yang disiapkan antara lain bubur merah putih, tumpeng lengkap dengan isinya, dan ketan tetel/ketan uli. Untuk ketan tetel, nantinya anak dibimbing untuk menginjakkan kaki pada hidangan tersebut sebagai simbol harapan agar ia tidak melupakan tanah kelahirannya.




(adr/adr)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork