5 Fakta Bubur Suro yang Selalu Disajikan saat Tahun Baru Islam

5 Fakta Bubur Suro yang Selalu Disajikan saat Tahun Baru Islam

Diah Afrilian - detikFood
Selasa, 16 Jun 2026 13:00 WIB
Sejak pagi, kesibukan tampak di dapur Hj Lilik Mufidah, warga Bungurasih Timur, Waru, Sidoarjo. Aroma gurih menyeruak kala panci besar berisi bubur diaduk bersama sejumlah rempah dan santan kental.
Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikcom
Jakarta -

Bubur Suro menjadi hidangan yang identik dengan perayaan 1 Muharram. Ternyata di balik penyajiannya tersimpan berbagai fakta unik.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam menyambut momen penting, termasuk pergantian Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Di masyarakat Jawa, salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah menyajikan Bubur Suro.

Hidangan tradisional ini tidak hanya menawarkan cita rasa gurih, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam. Bubur Suro biasanya hadir dalam tradisi malam 1 Suro yaitu bulan pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanan ini menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan. Namun juga menjadi bagian dari kebudayaan dan ritual masyarakat.

Berikut ini 5 fakta bubur suro yang dilansir dari berbagai sumber:

Tradisi Bubur Suro Sunan BonangPenyajian Bubur Suro identik dengan perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram. Foto: Ainur Rofiq

1. Identik dengan Tahun Baru Islam

Bubur Suro merupakan makanan yang erat kaitannya dengan peringatan 1 Muharram atau Tahun Baru Islam. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Muharram dikenal dengan sebutan Suro, sehingga hidangan yang dibuat khusus pada waktu tersebut kemudian dikenal sebagai Bubur Suro.

ADVERTISEMENT

Tradisi membuat Bubur Suro biasanya dilakukan oleh keluarga atau masyarakat. Tradisi ini melambangkan bentuk rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilewati selama satu tahun sebelumnya.

Bubur suro kemudian akan disantap bersama atau dibagikan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan. Tradisi ini terus dijaga secara turun temurun oleh masyarakat Jawa.

2. Melambangkan Rasa Syukur

Berbeda dengan bubur pada umumnya, Bubur Suro memiliki filosofis khusus. Hidangan ini sering dikaitkan dengan harapan agar kehidupan di tahun yang baru mendapatkan keselamatan, keberkahan, dan rezeki yang lebih baik.

Dalam budaya Jawa, makanan dalam acara tradisi sering kali memiliki makna tertentu. Begitu pula dengan Bubur Suro yang dianggap sebagai bentuk doa melalui makanan.

Cara penyajiannya menjadi momen bersyukur untuk bisa berkumpul bersama keluarga dan orang terdekat. Sementara proses memasak Bubur Suro bersama menjadi lambang kerjasama dan gotong royong antar masyarakat.

3. Komponen Bubur Suro

Bubur Suro biasanya dibuat dari beras yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah sehingga menghasilkan rasa gurih. Berbeda dengan bubur nasi biasa, Bubur Suro dilengkapi pendamping seperti ayam, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, hingga taburan bawang goreng.

Beberapa daerah memiliki ciri khas masing-masing dalam penyajiannya. Ada versi yang menggunakan lauk seperti opor ayam atau kari, sementara daerah lain menambahkan berbagai jenis kacang sebagai pelengkap.

Dalam tradisi tertentu, jumlah atau jenis bahan yang digunakan juga dipercaya memiliki filosofi. Misalnya penggunaan beberapa jenis kacang yang melambangkan harapan akan kehidupan yang lengkap dan penuh keberkahan.

A popular Peranakan breakfast and fast food dish in Indonesia, consists of rice porridge with toppings of shredded chicken, sliced Chinese croissant, fried shallot, chopped celery leaves, and crisp crackers. Accompanied with chili sauce. Typically an inexpensive, street food dish, it is now served in a fancy ceramic bowl with Chinese-style, ceramic soup spoon tucked on the upper right hand side. A casually-folded white linen napkin underlines the bowl. The meal is served on an unpolished, rustic wooden table. The image was taken outdoor in the morning and used sunlight as the natural lighting source.Dibalik penyajiannya banyak dikaitkan dengan kisah nabi hingga kepercayaan masyrakat setempat. Foto: Getty Images/iStockphoto/MielPhotos2008

4. Dikaitkan dengan Kisah Nabi Nuh AS

Salah satu cerita yang sering dikaitkan dengan asal-usul Bubur Suro adalah kisah Nabi Nuh AS. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, disebutkan bahwa Nabi Nuh dan para pengikutnya membuat makanan dari sisa bahan yang tersedia sebagai bentuk rasa syukur setelah selamat dari banjir besar.

Namun, kaitan antara Bubur Suro dan kisah tersebut lebih banyak berkembang sebagai tradisi lisan masyarakat. Cerita ini tetap menjadi bagian dari nilai budaya yang membuat Bubur Suro memiliki makna lebih luas.

Di sisi lain, Bubur Suro menjadi salah satu media penyebaran Islam di Nusantara. Tradisi ini menjadi warisan Sunan Bonang ketika berusaha memperkenalkan Islam di tanah Jawa.

5. Warisan Kuliner Jawa

Hingga kini Bubur Suro tetap bertahan sebagai salah satu warisan kuliner tradisional Jawa. Walaupun tidak selalu ditemukan setiap hari, makanan ini kembali muncul ketika memasuki bulan Muharram atau perayaan tertentu.

Keberadaan Bubur Suro terus dijaga dan dilestarikan. Penyajiannya menjadi penghubung antara generasi orang tua dengan penerus yang terus terikat dalam satu budaya.

Melalui penyajian Bubur Suro, terbukti juga adanya peran kuliner sebagi bagian ritual dan simbolis di masyarakat Jawa. Bahkan setiap perayaan 1 Muharram setiap tahunnya, banyak orang selalu mencari Bubur Suro.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Tradisi Bagi-bagi Bubur Suro untuk Buka Puasa di Palembang"
[Gambas:Video 20detik] (dfl/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads