Bosan Jadi Software Engineer di Meta, Pria Ini Pilih Jualan Mie Kaki Lima

Bosan Jadi Software Engineer di Meta, Pria Ini Pilih Jualan Mie Kaki Lima

Atiqa Rana - detikFood
Selasa, 09 Jun 2026 15:30 WIB
Bosan Jadi Software Engineer di Meta, Pria Ini Pilih Jualan Mie Kaki Lima
Foto: Instagram : louisatay and sgumamibomb
Jakarta -

Perjalanan karier seorang mantan software engineer di perusahaan Meta tengah menarik perhatian. Merasa bosan dengan pekerjaan sebelumnya, ia kini pilih buka warung mie kaki lima.

Bekerja di sebuah perusahaan teknologi besar merupakan pencapaian luar biasa dan membanggakan. Sebab biasanya seseorang menerima gaji dan tunjangan kompetitif serta memiliki peluang besar mempercepat pertumbuhan karirnya.

Namun, hal tersebut tidak menjamin seorang pekerja bertahan lama di perusahaan tersebut. Banyak juga yang memutuskan banting setir profesi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Contoh saja pria Singapura bernama Alvin Tan yang berpindah karier dari perusahaan teknologi populer Meta, menjadi penjual mie Hokkien di pasar. Mie Hokkien merupakan hidangan peranakan populer yang memadukan mi kuning dan bihun, ditumis dengan kaldu udang kaya rasa, serta dilengkapi dengan potongan udnag, cumi-cumi, dan telur. Ciri khasnya adalah kuah kaldu udang gurih yang meresap ke dalam mi.

ADVERTISEMENT

Perpindahan karier tersebut menarik perhatian netizen karena Tan rela meninggalkan pekerjaan sebelumnya yang memiliki gaji jauh lebih tinggi daripada bisnisnya saat ini. Namun, ia mengaku tidak lagi tertarik dengan pekerjaannya sebagai software engineer di perusahaan tersebut, lapor livemint.com (7/6).

Bosan Jadi Software Engineer di Meta, Pria Ini Pilih Jualan Mie Kaki LimaEks mantan software engineer ini memutuskan untuk keluar dan beralih karir ke penjual mie. Foto: Instagram : louisatay and sgumamibomb

Dalam sebuah unggahan video, konten kreator Louisa Tay sempat menghampiri penjual mie itu dan bertanya tentang keputusannya meninggalkan Meta. Lalu Tan menjawab jika pekerjaannya sebagai software engineer merupakan hal yang membosankan. Memang banyak orang bermimpi untuk bisa bekerja di Meta. Namun, menurut Tan, perspektifnya berubah setelah bergabung dengan perusahaan tersebut.

"Perusahaan-perusahaan besar semuanya melakukan restrukturisasi. Tim saya bahkan beberapa kali melakukan restrukturisasi. Itu adalah impian setiap orang, tetapi begitu Anda berada di dalamnya, Anda akan memikirkan hal lain yang dapat Anda lakukan dalam hidup," jelasnya kepada konten kreator tersebut.

Sejak beralih karir, Tan mengaku pendapatannya turun drastis. Ia juga merasa jika pendapatannya dulu dan sekarang tidak bisa dibandingkan. Pekerjaannya dulu jelas memberi pendapatan 2-3 kali lebih banyak.

Dalam menjalani bisnis kuliner ini, Tan dibantu oleh pacarnya. Sebab, keterbatasan keuangan membuatnya sulit merekrut staff tambahan. Ia juga berterima kasih kepada pacarnya karena telah mendukung bisnis dan membantu operasional sehari-hari.

Ketika ditanya apa yang akan dia katakan kepada orang-orang yang mempertimbangkan langkah serupa, Tan mendorong mereka untuk tetap optimis. Menurutnya, selalu ada pintu yang terbuka dan suatu hari jika memang tidak berhasil, selalu ada jalan lain yang bisa dilakukan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan yang baik.

"Selain itu, istirahat juga penting. Jika memasak ini membuat saya sering sakit, maka saya akan memprioritaskan kesehatan saya," ujarnya.

Unggahan tersebut memicu reaksi beragam dari para netizen.

Seorang netizen berkomentar, "AI dapat menggantikan pekerjaan insinyur perangkat lunak, tetapi tidak dapat menggantikan penjual mie Hokkien."

Netizen lain membagikan pengalaman serupa. Netizen ini mengaku sebagai seorang chef dan pemilik restoran BBQ di pantai, tetapi ia masih memiliki laboratorium di belakang restorannya yang dijadikan tempat untuk melakukan rekayasa perangkat keras. Dengan pengalamannya tersebut ia memberi semangat dan contoh bahwa Tan juga bisa melakukan keduanya.

Bosan Jadi Software Engineer di Meta, Pria Ini Pilih Jualan Mie Kaki LimaHidangan yang ia jual adalah mie Hokkien Singapura. Foto: Instagram : louisatay and sgumamibomb

Ada juga netizen yang memuji hidangan mie Hokkien di sini.

"Sekadar informasi, ini pasti salah satu Hokkien mee terbaik yang pernah saya cicipi," ujarnya.

Perpindahan dari pekerjaan teknologi bergaji tinggi ke penjual mie membutuhkan beberapa penyesuaian. Tan mengaku terpaksa menurunkan gaya hidup karena penghasilan yang ia dapat juga lebih rendah dari pada saat bekerja di bidang software engineer.

Ia mengurangi pengeluaran untuk makanan dan sebagian besar memasak sendiri di rumah. Bekerja sebagai seorang penjual mie juga membuat rutinitasnya berubah. Menurutnya, kini ia hanya punya sedikit waktu untuk teman dan keluarga. Sebab, jika memutuskan untuk libur, tandanya dia juga harus mengorbankan penghasilannya.




(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads