Lebih Pilih Kualitas, Penjual Ini Tolak Disandingkan Sama Penjual Ayam Murah

Lebih Pilih Kualitas, Penjual Ini Tolak Disandingkan Sama Penjual Ayam Murah

Atiqa Rana - detikFood
Kamis, 30 Apr 2026 12:30 WIB
Lebih Pilih Kualitas, Penjual Ini Tolak Disandingkan Sama Penjual Ayam Murah
Foto: SHIN MIN DAILY NEWS, LIANHE ZAOBAO
Jakarta -

Seorang penjual nasi ayam di Singapura angkat bicara usai beberapa pelanggan menyandingkannya dengan penjual nasi ayam Rp 25 ribu. Ia pun lebih mementingkan kualitas dari harga murah.

Harga makanan di Singapura memang dikenal tidak murah. Umumnya dilatarbelakangi oleh bahan baku dan sewa tempat yang mahal. Terlebih, belakangan ini banyak warung makan kaki lima hingga restoran yang turut menaikkan harga makanan mereka karena biaya operasional yang juga meningkat.

Di kondisi seperti ini, sebagian pelanggan mungkin lebih memilih untuk mencari alternatif makanan yang lebih murah. Beberapa penjual makanan di Singapura memang masih ada yang mempertahankan harga lebih terjangkau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi banyak juga penjual yang menetapkan harga mahal karena mementingkan kualitas, seperti penjual nasi ayam ini. Ia memberikan alasan mengapa harga nasi ayamnya cenderung mahal dan tidak mau disandingkan dengan penjual nasi ayam murah.

ADVERTISEMENT

Dalam unggahan Facebook, pemilik gerai Poh Kee Chicken Rice, Michael Poh mengungkap jika mereka telah menyajikan nasi ayam yang dimasak fresh selama lebih dari 24 tahun di Blok 206 Toa Payoh Utara. Namun, ia mencatat beberapa pelanggan baru-baru ini membandingkannya dengan warung nasi ayam seharga $1,90 (Rp 25.772) yang viral beberapa waktu lalu, lapor stomp.sg (27/4).

Menurutnya ketika harga murah datang, beberapa pelanggan melupakan soal kualitas. Pemilik warung nasi ayam ini juga mengungkap beberapa pelanggan meminta agar ia menurunkan harga, dengan asumsi ia sudah memperoleh keuntungan besar dengan harga yang ditetapkan saat ini.

Pemilik gerai Poh Kee Chicken Rice merasa kesal dibanding-bandingkan dengan gerai ayam nasi murah. Pasalnya mereka selalu menggunakan bahan-bahan terbaik.

"Kami menggunakan yang terbaik dari segalanya, tapi sekarang harus dibandingkan dengan toko-toko seperti ini. Sangat menyebalkan...," ujar pemilik warung tersebut.

Lebih Pilih Kualitas, Penjual Ini Tolak Disandingkan Sama Penjual Ayam MurahPenjual nasi ayam ini tidak mau dibandingkan dengan penjual nasi ayam murah. Ia juga mengaku lebih mementingkan kualitas. Foto: SHIN MIN DAILY NEWS

Menanggapi pertanyaan dari Stomp, Michael mengungkap terkejut dengan perbandingan ini. Ia juga sempat menerima pertanyaan mengapa di warung lain mereka bisa menetapkan harga sangat murah. Michael sendiri tidak tahu alasannya dan ia tidak bisa menyamakan penggunaan jenis bahan dan ayam yang sama.

Kekesalan Michael bertambah karena beberapa pelanggan menganggap warung makannya mencari keuntungan semata. Padahal menurut Michael, dirinya sudah sangat loyal ke pelanggan dengan sering memberikan barang gratis secara acak ke pelanggan serta menggunakan bahan-bahan terbaik.

"Disebut sebagai pencari keuntungan adalah suatu penghinaan," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa penetapan harga saat ini mencerminkan kemampuan bisnis untuk mempertahankannya. Ia juga tidak selalu mungkin menyamai harga pesaing.

Unggahan tersebut memicu beragam komentar dari netizen. Sebagian besar netizen memberi dukungan dan menawarkan saran kepadanya.

Seorang netizen mengungkap, "Anda tidak bisa memuaskan semua orang."

Netizen lain berkomentar, "Jika mereka menginginkan harga $1,90 (Rp 25.772), biarkan mereka naik bus/MRT untuk makan di sana."

Lebih Pilih Kualitas, Penjual Ini Tolak Disandingkan Sama Penjual Ayam MurahIni penjual nasi ayam murah yang hanya dibanderol seharga Rp 25 ribuan. Foto: SHIN MIN DAILY NEWS, LIANHE ZAOBAO

Diketahui saat ini warung makan Poh Kee Chicken Rice menjual nasi ayam seharga $4.50 (Rp 61.038) untuk ukuran sedang dan $5.50 (Rp 74.604) untuk ukuran besar.

Mereka juga termasuk salah satu di antara penjual makanan kaki lima yang mengalami dampak kenaikan biaya bahan baku di tengah konflik Timur Tengah.

Ia mencatat perlu mengeluarkan bahan baku sampai $10.000 (sekitar Rp 135,6 juta) per bulan, ditambah $7.200 (sekitar Rp 97 juta) untuk biaya sewa dan kebersihan, sehingga total pengeluaran bulanan menjadi sekitar $17.200 (sekitar Rp 233 juta). Setiap harinya warung tersebut menggunakan sekitar 30 sampai 40 kilogram ayam.

Meskipun begitu, ia mengatakan enggan membebankan biaya tambahan tersebut ke pelanggan. Sebagai alternatif, ia menyediakan kotak tip yang dimaksudkan untuk membantu menutupi kenaikan biaya operasional. Michael juga berterima kasiha atas bantuan apa pun.




(aqr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads