Baru-baru ini sebuah kafe di Jepang tengah menarik perhatian. Tidak seperti kafe pada umumnya yang banyak mempekerjakan anak muda, di sini justru para lansia yang melayani tamu.
Tidak semua lansia bisa bebas dan santai menikmati masa tua. Banyak juga dari mereka yang masih membutuhkan pekerjaan karena desakan ekonomi atau faktor lainnya.
Namun mencari pekerjaan di usia tua bukan hal mudah. Banyak tempat yang jarang menerima lansia, termasuk industri F&B karena adanya stereotip kemampuan fisik, biaya operasional tambahan, hingga kebijakan usia rekrutmen terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untungnya belakangan ini banyak tempat yang masih mempekerjakan lansia. Bahkan di beberapa negara, lansia memang diperbolehkan untuk bekerja.
Salah satunya adalah sebuah kafe di Jepang. Kafe baru berlokasi di kawasan hits Shibuya tengah menarik perhatian. Mereka dikenal sebagai sebuah kafe dengan menu inovatif, estetik, dan para staff yang modif. Tetapi tidak hanya itu, kafe di sini juga disorot lantaran pelayan mereka adalah sekelompok lansia.
Kafe bernama G&B atau G-cha dan Ba-cha merupakan permainan kata dari ji-chan dan ba-chan yang artinya 'kakek' dan 'nenek' dalam bahasa Jepang. Kata 'cha' juga berarti 'teh' dalam bahasa Jepang. Kafe teh ini mempekerjakan pelayan yang rata-rata usianya sekitar 73 tahun ke atas. Karyawan tertuanya juga berusia 80 tahun, lapor soranews24.com (1/4).
Kafe ini mempekerjakan para lansia berusia sekitar 70 sampai 90 tahun. Foto: soranews24.com / Casey Baseel |
Meskipun pekerjanya adalah para lansia, menu yang ditawarkan bukanlah menu-menu jadul atau zaman dulu. Menu yang ditawarkan kafe ini berfokus pada minuman teh dengan cita rasa khas Jepang tradisional dengan sentuhan baru.
Mulai dari teh hijau yang ditambah dengan melati, teh hojicha ditambah dengan jahe, hingga matcha latte yang dikombinasikan dengan saus salted caramel, cokelat, sampai kopi. Jika ingin menikmati yang segar-segar dan bukan minuman, kafe ini punya menu es krim matcha.
Minuman yang ditawarkan kafe ini sangat variatif, termasuk matcha latte dengan aneka topping. Foto: soranews24.com / Casey Baseel |
G-cha dan Ba-cha memang tidak menyediakan area makan di tempat. Namun kafenya tetap dibuat nyaman. Kemasan atau cangkirnya juga dibuat estetik dengan penuh gaya ceria.
Kafe terebut memiliki sejumlah program yang dilakukan demi menghormati para pekerja lansia. Pertama, ada staff layanan yang menerima pesanan dan pelayan menyajikan minuman pelanggan sambil duduk. Cara ini sangat jarang dilakukan di Jepang tetapi kafe itu menerapkannya untuk mengurangi ebeban pada lutut, punggung, dan persendian lainnya. Selain itu, ada sistem istirahat fleksibel di tengah shift.
Pelanggan yang mau pesan bisa mengisinya lewat selembar kertas dan pembayaran hanya dilakukan dengan metode no-tunai. Cara ini diterapkan supaya para pelayan tidak perlu menghafal pesanan atau mengoperasikan mesin kasir.
Meskipun hampir semua staff lanjut usia, ada juga karyawan yang lebih muda bekerja di belakang kafe. Tugasnya yaitu membuat pesanan minuman.
Semua hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari keinginan G-cha dan Ba-cha untuk menciptakan tempat di mana para lansia bisa tetap aktif, produktif, dan terhubung dengan masyarakat serta komunitas luar melalui cara menyenangkan tetapi tidak melelahkan fisik.
Lokasi kafenya berjarak dua menit jalan kaki dari stasiun Shibuya sehingga sangat mudah diakses oleh banyak orang.
Ini bukan kafe pertama yang mempekerjakan lansia. Di Indonesia juga ada kafe Uma Oma yang juga mempekerjakan para nenek. Pelanggan diperbolehkan berinteraksi dengan para oma di sana. Bahkan boleh berfoto, mengambil video, atau sekadar berbagi cerita.
Tak hanya dilayani oleh para oma, kafe di Blok M ini juga didekorasi senyaman mungkin dengan pernak-pernik milik para nenek, mulai dari rantang makanan, porselen di dinding, hingga karpet khas.
Restoran di Staten Island, New York juga diketahui mempekerjakan chef nenek-nenek dari berbagai negara. Usia neneknya mulai dari 50 hingga 91 tahun.
(aqr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN