Tidak semua pesanan makan pelanggan diterima dengan baik oleh para chef di dapur restoran. Beberapa justru dianggap merepotkan dan bikin frustrasi. Kenapa ya?
Pelanggan memiliki hak untuk memesan makanan apa pun di menu sesuai dengan yang mereka inginkan. Beberapa restoran juga memperbolehkan pelanggan meminta makanannya dibuat sesuai dengan kebutuhan pribadi, misalnya tidak pedas, tidak pakai bahan tertentu, dan lain sebagainya.
Namun dari sisi dapur restoran, sebenarnya para chef menghindari pesanan-pesanan tertentu. Sebagian pesanan seringkali dianggap meribetkan chef hingga membuat para chef frustrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ada pesanan 'berbeda', mesin yang sudah diatur ritmenya bisa berubah. Artinya, alur kerja chef otomatis akan berubah dan memperlambat semua pesanan lain.
Selain itu menu 'custom' atau menu tertentu juga bisa membuat chef frustrasi karena tidak sesuai dengan preferensi, membuat hasilnya mungkin tidak maksimal atau merusak hitungan stok bahan.
Dilansir dari foodrecipe24/7.com (24/3), berikut 5 pesanan makan yang bisa mengganggu dapur restoran.
1. Steak matang sempurna
Chef di restoran lebih suka pesanan steak yang masih medium rare atau medium well, bukan terlalu matang. Foto: iStock |
Steak yang ditawarkan di restoran umumnya disarankan dimasak sampai medium rare atau medium well. Hal ini penting untuk mencapai keseimbangan terbaik antara tekstur lembut, rasa juicy, dan keamanan konsumsi.
Steak yang dimasak sampai tingkat medium rare menghasilkan tekstur paling empuk dan juicy. Sedangkan medium well memberikan keamanan paling pas bagi mereka yang tidak suka daging merah tetapi tidak mau juga dagingnya alot. Oleh karena itu, para chef merasa frustrasi ketika ada pesanan steak well done atau matang sempurna.
Banyak chef menganggap memasak steak merupakan sebuah seni. Jika pelanggan memintanya matang sempurna, terasa seperti sebuah penolakan terhadap keahlian chef dan kualitas produk yang mereka tawarkan.
Steak well done juga membutuhkan waktu lebih lama untuk dimasak, yang akhirnya memengaruhi efisiensi dapur, terutama selama jam sibuk. Waktu memasak lebih lama juga mampu memengaruhi kualitas hidangan lain yang disiapkan secara bersamaan.
2. Salad sesuai keinginan sendiri
Pesanan salad yang disesuaikan kemauan sendiri juga seringkali meribetkan. Foto: Getty Images/Magda Tymczyj |
Beberapa restoran atau tempat makan menawarkan menu salad. Umumnya, seperti caesar salad atau Greek salad. Namun ada juga pelanggan yang kerap memesan salad sesuai dengan keinginan sendiri atau custom.
Hidangan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam kondisi dapur yang sibuk, pesanan modifikasi salad bisa menjadi sebuah jebakan.
Dapur restoran dibangun untuk produksi makan cepat dan konsisten. Sebagian besar bahan-bahan makanan sudah disiapkan sebelumnya, sehingga para chef hanya perlu menyiapkan dan menyusun makanan dengan cepat.
Ketika ada pesanan modifikasi baru, jalur yang sudah dibangun tersebut bisa berantakan. Bahkan sesuatu sederhana, seperti menambah irisan tomat ke campuran sayuran hijau bisa menyebabkan kekacauan.
3. Pesanan makanan spesifik di waktu sibuk
Beberapa pelanggan punya alergi tertentu yang menyebabkan mereka tidak bisa memesan makanan sembarangan. Di restoran, pelanggan dengan kondisi seperti itu mungkin akan meminta beberapa bahan makanan dihilangkan.
Hal ini sebenarnya bukan menjadi masalah ketika restoran kondisinya sedang santai, tetapi beda cerita jika hal tersebut dipesan di waktu sibuk.
Pesanan yang ditujukkan untuk pelanggan dengan masalah alergi bisa menciptakan stress dan beban tanggung jawab tambahan kepada para chef.
Meskipun dapur mereka memiliki langkah-langkah yang memadai untuk mengatasi alergen, dapur tetap memiliki lingkungan mudah terkontaminasi. Artinya semua peralatan yang dipakai perlu dibersihkan sebelum digunakan untuk tamu tersebut.
4. Hidangan dengan banyak pergantian bahan
Pesan makan terlalu banyak 'request' juga menganggu ritme di dapur restoran. Foto: Istimewa |
Sebagian modifikasi tidak menjadi masalah. Namun ketika seseorang mencoba mengubah sesuatu yang penting dalam hidangan, hal tersebut bisa menimbulkan frustrasi di dapur.
Misalnya pelanggan meminta hidangan lumpia udang diganti dengan isian potongan ayam. Hal ini bisa mengganggu dapur karena seperti meminta chef bikin hidangan baru.
Selain itu, tekanan untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan cepat dan efisien juga dapat menciptakan ketegangan di antara anggota staff, yang akhirnya mengakibatkan konflik karena emosi meningkat.
Semakin banyak pergantian bahan yang ditambah ke pesanan, maka semakin besar kemungkinan sesuatu terlewatkan dan akhirnya menyebabkan seluruh hidangan harus dibuat ulang.
5. Masakan udang yang butuh persiapan lebih banyak
Di beberapa restoran, udang sering diolah dengan berbagai cara dan bentuk. Meskipun olahan udang enak dan disukai pelanggan, ini bukan makanan yang disukai chef.
Dibutuhkan banyak proses dalam mengolah udang, seperti proses pencucian, membuang urat, kotoran, hingga memasaknya dengan berbagai bahan yang menurut chef kurang praktis. Udang juga biasa dibersihkan dengan tangan langsung yang menimbulkan ketidaknyamanan fisik.
Bahan makanan ini juga tidak toleran terhadap kesalahan dalam hal waktu memasak. Jika terlalu matang selama 30 detik saja, bisa membuat udang menjadi kenyal atau alot. Jika terlalu mentah, bisa menjadi masalah terhadap keamanan pangan.
Menurut penelitian dari FairKitchens, hampir dua pertiga chef menderita depresi dan lebih dari setengahnya tertekan hingga titik puncaknya dengan 74% merasa kurang tidur karena kelelahan karena mengolah udang.
Simak Video "Sambal Bajak, 'Teman' Menu Andalan"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN